TIMES MALANG, MALANG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang mencatat laju inflasi di wilayah kerjanya, atau di keresidenan Malang masih berada dalam kondisi terkendali. Masih sesuai dengan sasaran nasional yakni 2,5±1 persen. Stabilitas harga ini menjadi indikator positif bagi daya beli masyarakat serta keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala OJK Malang, Farid Faletehan, mengatakan secara umum tekanan inflasi di Malang Raya dan sekitarnya masih dapat dikelola dengan baik, meski terdapat kenaikan harga pada sejumlah komoditas tertentu.
“Secara keseluruhan, inflasi di wilayah kerja KOJK Malang masih dalam rentang target nasional. Ini menunjukkan koordinasi pengendalian inflasi daerah berjalan cukup efektif,” ujar Farid.
Berdasarkan data terbaru, Kota Malang mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) per Desember 2025 sebesar 0,56 persen secara bulanan (month to month/m-to-m) dan 2,81 persen secara tahunan (year on year/y-on-y).
Sementara itu, Kabupaten Malang mencatat inflasi berdasarkan GDP deflator Triwulan III 2025 sebesar 0,24 persen (quarter to quarter/q-to-q) dan 2,49 persen (y-on-y), masih berada dalam batas aman sasaran inflasi.
Di Kota Batu, inflasi GDP deflator pada Triwulan III 2025 tercatat 0,09 persen (q-to-q) dan 1,64 persen (y-on-y), menjadikannya salah satu daerah dengan tingkat inflasi terendah di wilayah kerja OJK Malang.
Adapun Kota Pasuruan mencatat inflasi IHK 0,75 persen (m-to-m) per November 2025, sementara Kota Probolinggo mengalami inflasi IHK 0,57 persen (m-to-m) dan 3,03 persen (y-on-y) per Desember 2025.
Untuk wilayah kabupaten, Kabupaten Pasuruan mencatat inflasi GDP deflator Triwulan III 2025 sebesar 0,87 persen (q-to-q) dan 3,16 persen (y-on-y). Sedangkan Kabupaten Probolinggo mencatat inflasi 0,32 persen (q-to-q) dan 2,94 persen (y-on-y).
Farid menjelaskan, inflasi bulanan di wilayah KOJK Malang terutama didorong oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, transportasi, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya. Sementara inflasi tahunan juga dipengaruhi oleh kelompok komoditas yang sama.
Beberapa komoditas utama yang menjadi pendorong inflasi antara lain cabai rawit, bawang merah, tomat, daging ayam ras, telur ayam ras, bensin, angkutan udara, serta emas perhiasan.
“Ke depan, stabilitas inflasi ini perlu terus dijaga karena sangat berpengaruh terhadap stabilitas sektor jasa keuangan, konsumsi rumah tangga, dan iklim investasi di daerah,” kata Farid. (*)
| Pewarta | : Achmad Fikyansyah |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |