TIMES MALANG, MALANG – Di tanah diaspora, pendidikan tidak pernah berdiri sebagai bangunan megah dengan pagar tinggi. Ia tumbuh diam-diam, kadang di sela jam kerja, kadang di ruang sempit asrama, kadang di sudut masjid atau ruang komunitas. Di Taiwan, pendidikan bagi diaspora Indonesia bukan sekadar soal ijazah, melainkan upaya menjaga akal tetap menyala di tengah mesin industri yang tak pernah lelah berputar.
Taiwan dikenal sebagai negeri disiplin, teknologi, dan produktivitas. Di sana, ribuan pekerja migran Indonesia menggantungkan hidup menggerakkan pabrik, merawat lansia, membersihkan kota. Namun di balik kerja fisik yang panjang dan melelahkan, ada dahaga lain yang sering tak terlihat: dahaga pengetahuan, harga diri, dan masa depan yang lebih bermakna.
Pendidikan di tanah diaspora tidak lahir dari kebijakan negara yang mapan. Ia lebih sering lahir dari kesadaran kolektif, dari kegelisahan orang-orang yang menolak nasib berhenti pada kata “pekerja”. Di Taiwan, pendidikan menjadi jalan sunyi untuk membuktikan bahwa menjadi buruh bukan berarti berhenti berpikir, dan menjadi migran bukan berarti kehilangan martabat.
Ironisnya, banyak dari mereka justru menemukan kembali makna pendidikan setelah jauh dari Indonesia. Di tanah air, pendidikan sering direduksi menjadi rutinitas administratif rapor, ijazah, akreditasi.
Di tanah diaspora, pendidikan kembali ke hakikatnya: membebaskan cara berpikir. Membaca buku menjadi tindakan perlawanan kecil, diskusi menjadi bentuk merdeka, dan belajar menjadi cara mempertahankan identitas.
Komunitas diaspora Indonesia di Taiwan pelan-pelan menjadikan pendidikan sebagai ruang bertumbuh. Kelas literasi, diskusi kebangsaan, pengajian intelektual, hingga pelatihan keterampilan digital bermunculan bukan karena fasilitas berlimpah, tetapi karena kesadaran bahwa masa depan tidak boleh diserahkan sepenuhnya pada nasib kontrak kerja. Pendidikan di sini tidak selalu formal, tetapi justru relevan dan membumi.
Namun, tantangan pendidikan diaspora juga tidak kecil. Waktu belajar sering kalah oleh jam kerja. Akses informasi tidak merata. Negara hadir lebih banyak dalam urusan administratif ketimbang pengembangan kapasitas.
Pendidikan pekerja migran kerap dipandang sebagai aktivitas tambahan, bukan kebutuhan strategis. Padahal, mereka adalah wajah Indonesia di luar negeri duta budaya, etos kerja, dan nilai kebangsaan.
Di Taiwan, pendidikan diaspora seharusnya tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan individu, tetapi juga membangun kesadaran kolektif. Bahwa pulang ke Indonesia tidak cukup dengan tabungan, tetapi juga dengan gagasan. Bahwa migrasi bukan jalan buntu, melainkan ruang belajar global. Bahwa pengalaman hidup di negeri orang adalah kurikulum yang mahal jika tidak direfleksikan.
Pendidikan di tanah diaspora juga menjadi ruang kritik terhadap sistem di tanah air. Mengapa banyak anak bangsa baru menghargai belajar setelah berada jauh dari sekolah formal? Mengapa literasi tumbuh subur di asrama pekerja, tetapi mandek di kampus bergengsi? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan, melainkan mengoreksi arah.
Taiwan mengajarkan satu hal penting: pendidikan berjalan seiring disiplin dan etos kerja. Namun pendidikan diaspora Indonesia perlu melampaui sekadar adaptasi sistem. Ia harus menumbuhkan keberanian berpikir, kesadaran hak, dan kemampuan berorganisasi. Pendidikan harus menjadi jembatan antara pengalaman global dan tanggung jawab kebangsaan.
Lebih jauh, negara seharusnya melihat pendidikan diaspora sebagai investasi jangka panjang. Mereka yang belajar di sela kerja adalah calon pemimpin komunitas, penggerak UMKM, pendidik informal, dan agen perubahan sosial ketika kembali ke tanah air. Mengabaikan pendidikan mereka sama dengan menyia-nyiakan potensi bangsa yang ditempa di luar negeri.
Pendidikan di Taiwan juga menjadi ruang untuk merawat keindonesiaan. Bahasa, sejarah, nilai gotong royong, dan etika sosial perlu terus dirawat agar diaspora tidak tercerabut dari akarnya. Menjadi warga dunia tidak berarti kehilangan identitas. Justru dari tanah asing, rasa memiliki terhadap Indonesia sering tumbuh lebih jujur.
Pendidikan di tanah diaspora adalah tentang harapan. Harapan bahwa kerja keras tidak berakhir pada kelelahan semata. Harapan bahwa anak bangsa di negeri orang tetap punya masa depan berpikir. Dan harapan bahwa Indonesia suatu hari akan benar-benar menghargai pendidikan bukan hanya di ruang kelas, tetapi di mana pun warganya berjuang.
Taiwan hanyalah satu titik di peta diaspora. Namun dari sanalah kita belajar: pendidikan tidak selalu lahir dari negara, tetapi negara akan tertinggal jika terus abai. Sebab di tangan mereka yang belajar di sela peluh, masa depan Indonesia sedang diam-diam disusun.
***
*) Oleh : Jakfar Shodiq, Mahasiswa Internasional Master Program in National Pingtung University Taiwan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |