Ngaji Filsafat saat Ramadan, Ustadz Fahrudin Faiz Ajak Gen-Z Berdamai dengan Kecemasan
TIMES Malang/Kajian filsafat ustadz Fahrudin Faiz mengenai damai dalam menghadapi kecemasan. (Foto: Miranda/TIMES Indonesia)

Ngaji Filsafat saat Ramadan, Ustadz Fahrudin Faiz Ajak Gen-Z Berdamai dengan Kecemasan

Manusia harus tumbuh dan maju, tetapi tetap harus realistis dan mengerti kapasitas diri.

TIMES Malang,Senin 9 Maret 2026, 22:49 WIB
88
M
Miranda Lailatul Fitria (MG)

TIMESINDONESIAPerasaan cemas yang kerap menghampiri, merupakan hal manusiawi. Manusia diciptakan memiliki akal budi, sehingga kehadiran perasaan cemas adalah hal yang alami. Ini sebagai tanda bahwa kita sedang memikirkan hidup. 

Hal tersebut disampaikan oleh pakar filsafat, Ustadz Dr. Fahrudin Faiz dalam kegiatan Cafe Ramadan yang bertajuk "Cemas itu Manusiawi, Tawakal adalah Solusi" yang dilaksanakan di Masjid Raden Patah UB pada Senin (9/3/2026) malam. 

Ustadz Faiz menyampaikan bahwa kecemasan menjadi bagian dari emosi manusia. Karena memang ada kalanya seseorang serius dalam memikirkan kehidupan yang saat ini tidak pasti. 

“Perasaan cemas itu manusiawi, kalau gak cemas berarti kamu lagi sakit,” ujarnya saat menyampaikan materi.

Ia menambahkan bahwa seseorang yang merasa cemas akan kehidupan justru harus bergembira, karena itu tanda bahwa mereka serius memikirkan hidup.

Justru mereka yang tidak pernah merasa cemas akan merasa kaget apabila menemukan peristiwa yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Akan tetapi, perasaan cemas yang berlebihan atau overthinking adalah sesuatu yang bahaya. Ustadz Faiz juga mengajarkan untuk selalu bersikap stoic, dimana sesuatu yang bukan atas kendali kita tidak perlu dicemaskan.

“Dalam filsafat ada  aliran stoikisme, sesuatu yang bukan kendali kita tidak perlu dicemaskan, ini yang akan bikin hidup bahagia,” imbuhnya.

Solusi mengatasinya adalah dengan berserah diri dan tawakal.  Selain itu, di zaman yang semakin tidak pasti ini, Ustadz Gen-Z tersebut juga mengingatkan untuk jangan terlalu sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain, karena setiap orang memiliki ritme hidupnya masing-masing. 

“Kalau membandingkan diri bisa menimbulkan motivasi untuk tumbuh itu bagus, tapi yang ditakutkan akan semakin membuat lelah batin,” pungkasnya.

Ia juga menyinggung seseorang yang dalam keadaan lelah memiliki beberapa ciri, seperti timbul perasaan kecewa dengan diri sendiri tapi tidak tahu cara menyikapinya gimana, ingin marah tetapi tidak tahu kepada siapa, hingga perasaan ingin menangis yang tidak ada sebabnya. 

Ia juga mengingatkan bahwa manusia harus tumbuh dan maju, tetapi tetap harus realistis dan mengerti kapasitas diri (self awarness). 

Acara yang digelar di halaman timur Masjid Raden Patah tersebut dihadiri oleh ratusan Gen-Z. Tak hanya membahas mengenai kesehatan mental, mereka juga turut berkonsultasi atas permasalahan hidup masing-masing. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Miranda Lailatul Fitria (MG)
|
Editor:Bambang H Irwanto