TIMES MALANG, MALANG – Di balik popularitas akun Instagram @kadavidevayana, tersimpan kisah inspiratif perjalanan hidup Kadafi Devayana. Pemuda berdarah Madura asal Bangkalan itu membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan, selama berani melawan rasa takut dan malu demi mimpi.
Di antara keterbatasan yang dimiliki, ia bertekad untuk melawan rasa takut dan malu demi mengejar mimpi, dan ternyata keputusan besar itulah yang mengantarkan Kadafi ke jenjang kesuksesaannya saat ini.
Sebelum dikenal sebagai selebgram dan kreator edukatif, Kadafi hanyalah anak desa dengan cita-cita sederhana: menjadi seorang Youtuber. Nilai perjuangan sudah ditanamkan sejak kecil oleh keluarganya, membentuk mental tangguh dalam menghadapi proses panjang menuju tujuan hidup.
Perjalanan Kadafi ternyata tidaklah mudah, di kehidupan nyatanya, ia harus melewati berbagai hujatan dan bullyan dari teman-temannya. Tidak banyak pihak yang mendukung mimpinya. Tetapi itu justru membuat Kadafi semakin terbakar api semangatnya.
Kadafi bersama member Kadev Academy. (FOTO: Kadafi for TIMES Indonesia)
“Dulu banyak yang ngatain aku alay, tapi aku tetap konsisten ngonten,” ujar alumni Fakultas Teknik Universitas Brawijaya tersebut.
Minimnya dukungan justru menjadi bahan bakar semangatnya. Di luar aktivitas konten, Kadafi menekuni berbagai pekerjaan freelance di bidang kreatif seperti editor dan videografer sejak SMA. Kemampuan itu terus diasah hingga memasuki bangku kuliah pada 2021.
Bersama rekannya, Kadafi mendirikan Sekreativ, sebuah agensi media kreatif yang kini berkembang menjadi AI agency dan media. Melalui platform tersebut, ia aktif berbagi ilmu seputar kecerdasan buatan (AI), editing video, desain, videografi, hingga pembuatan konten digital.
Berbekal kegemarannya dalam berbagi pengetahuan, Kadafi mulai konsisten untuk membuat konten di media sosialnya dengan niche personal branding. Prinsip learning by doing menjadi fondasi utama dalam setiap langkahnya. Konten-konten yang ia sajikan dinilai inspiratif dan edukatif, khususnya bagi generasi muda yang ingin membangun citra diri di dunia digital.
Bagi Kadafi, personal branding telah mengubah hidupnya. Dengan personal branding, ia mampu membangun relasi luas, meningkatkan kepercayaan publik terhadap kemampuannya, memperoleh penghasilan, serta membuka berbagai peluang.
“Kalau aku enggak punya personal branding, nggak bakal dapat ini semua,” ucapnya.
Berbekal pengalaman jatuh bangun sejak 2016, Kadafi kemudian mendirikan Kadev Academy Community pada 2024. Platform edukasi personal branding ini bertujuan membantu banyak orang agar tidak mengulang kegagalan yang sama. Hingga kini, komunitas tersebut telah memiliki lebih dari 10.000 member dan 3.000 students di seluruh Indonesia.

“Aku nggak pengen orang-orang gagal bertahun-tahun dulu kayak aku,” tutur pemuda asli Bangkalan itu.
Tak hanya aktif di dunia digital, Kadafi juga dipercaya menjadi pembicara di lebih dari 250 acara, termasuk TEDx, serta menjalin kerja sama dengan berbagai brand nasional. Semua capaian tersebut, menurutnya, berakar dari keberanian membangun personal branding sejak dini.
Ia pun berpesan kepada mereka yang masih merasa malu memulai personal branding. Menurutnya, rasa malu yang berlebihan justru akan menghambat peluang. Masih menurut Kadafi, hanya ada dua pilihan, malu untuk mendapatkan hal bagus atau tidak malu dan tidak mendapatkan apa-apa. (*)
| Pewarta | : Miranda Lailatul Fitria (MG) |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |