TIMES MALANG, MALANG – Kabupaten Malang menyimpan jejak sejarah yang belum banyak dikenal publik. Salah satunya adalah Candi Sapto, sebuah situs cagar budaya yang berada di wilayah Kecamatan Kasembon dan memiliki nilai historis tinggi, namun membutuhkan perhatian serius dalam upaya pelestarian.
Berdasarkan data Malang Kabupaten Tourism Intelligence Center (Matic) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, Candi Sapto terletak sekitar 350 meter di sebelah timur permukiman warga, tepatnya di Dukuh Banturejo, Desa Bayem, Kecamatan Kasembon.
Secara geografis, kawasan Candi Sapto berada pada koordinat 49M 0646192 9136146 dengan ketinggian sekitar 315 meter di atas permukaan laut. Area candi dikelilingi tanaman perdu dan kawasan penghijauan milik Perhutani RPH Ngantang, dengan status lahan saat ini sebagai hak guna pakai.
Kontur tanah di halaman Candi Sapto tidak sepenuhnya datar. Bagian tertinggi berada di sisi selatan, sementara area lainnya memiliki elevasi yang bervariasi. Kondisi ini menunjukkan karakter lanskap alami yang masih terjaga, namun juga memerlukan penataan agar tidak mempercepat kerusakan situs.
Dari sisi kenampakan, Candi Sapto tidak berdiri dalam bentuk bangunan utuh seperti candi-candi besar pada umumnya. Situs ini berupa lantai bata kuno yang bentuknya sudah tidak utuh, disertai enam buah arca yang tersusun membentuk formasi setengah lingkaran menghadap ke arah barat. Kelompok arca tersebut berada di bagian halaman timur situs.
Sementara itu, di bagian tengah halaman terdapat bangunan berdenah empat persegi panjang yang disusun dari bata kuno dengan spesi semen bercampur pasir. Bangunan tersebut berukuran sekitar 140 sentimeter lebar dan 380 sentimeter panjang, yang diduga merupakan struktur tambahan pada periode tertentu.
Di sisi barat halaman Candi Sapto, ditemukan pula empat batu andesit berbentuk persegi serta empat buah umpak batu. Namun, hingga kini asal-usul batu-batu andesit tersebut masih belum dapat dipastikan secara jelas. Juru pelihara setempat menyebutkan belum diketahui apakah batu-batu tersebut berasal dari struktur asli candi atau dikumpulkan dari lokasi lain. (*)
| Pewarta | : Achmad Fikyansyah |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |