TIMES MALANG, MALANG – Ribuan siswa serta jajaran pendidik dan tenaga kependidikan SMK Turen Kabupaten Malang kini menggantungkan kelangsungan pendidikan, dari kepastian penyelesaian sengketa dua kubu yayasan atas SMK Turen tersebut.
Juru Bicara SMK Turen, Nur Afida menyampaikan, untuk memperkuat tuntutan penyelesaian konflik, dewan guru resmi berkirim surat kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Rabu (7/1/2026).
"Kami atas nama SMK Turen tadi bersama-sama sejumlah guru mengirimkan surat kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, melalui. Suratnya perihal permohonan perlindungan. Tadi sama Kacabdin langsung dibawa, untuk diteruskan ke Kepala Dinas Pendidikan," terang Nur Afida, dikonfirmasi TIMES Indonesia, Rabu (7/1/2026) malam.
Kepala sekolah bersama jajaran saat mendatangi Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Malang, menyampaikan surat permintaan perlindungan, Rabu (7/1/2026). (FOTO: SMK Turen for TIMES Indonesia)
Surat tersebut juga ditembuskan kepada Gubernur Jawa Timur, Kapolda Jawa Timur, Bupati Malang, DPRD Kabupaten Malang, serta Kapolres Malang.
Dalam surat permohonan perlindungan tersebut, ditandatangani langsung Kepala SMK Turen Kabupaten Malang, Tulus K.
"Permohonan ini murni dari kami dewan guru dan karyawan, ditandatangani kepala sekolah. Karena SMK Turen memang tidak ada dalam pihak yayasan manapun (yang bersengketa)," terang Nur.
Isi surat menegaskan dua poin utama, yakni pemberitahuan tidak ada kegiatan belajar mengajar di sekolah mulai Kamis, 8 Januari 2026, hingga waktu yang belum bisa ditentukan. Kegiatan belajar mengajar akan kembali berjalan setelah konflik internal yayasan benar-benar terselesaikan.

Mulai Kamis (8/1/2026) sekolah akan meliburkan kegiatan belajar mengajar secara massal, hingga batas waktu yang belum ditentukan. Menurutnya, keputusan ini diambil demi menjaga keamanan warga sekolah, baik peserta didik, guru, maupun tenaga kependidikan.
Kegiatan belajar mengajar akan kembali berjalan, setelah konflik internal yayasan terselesaikan atau pihak-pihak tidak berkepentingan berhasil dikeluarkan dari lingkungan sekolah.
Menurut Nur, sengketa dua kubu yayasan yang saling klaim pemilikan SMK Turen terjadi puluhan tahun, sejak 2008 silam sampai sekarang.
Di SMK Turen sendiri, lanjutnya, jumlah siswa tercatat 1.600 an anak yang setiap hari belajar dalam 59 rombel atau kelas. Sedangkan, jumlah guru sebanyak 84 orang, ditambah puluhan karyawan atau staf.
"Kami semua butuh perlindungan. Jadi, terpaksa melakukan pembelajaran daring kepada anak-anak. Tidak masuk ke sekolah dulu, khawatir terjadi apa-apa, karena bisa saja anak-anak masih terbawa emosi. Sekolah akan masuk normal kembali setelah konflik selesai," demikian Nur yang juga Waka Humas SMK Turen ini.
Demo Siswa Protes Konflik dan Premanisme
Sebagai bentuk penolakan, ribuan siswa SMK Turen didampingi sebelumnya juga menggelar aksi protes di halaman sekolah, pada Rabu (7/1/2026) pagi. Dalam aksinya, siswa dan guru SMK Turen mengecam tindakan premanisme yang sempat viral di media sosial, pada Minggu (28/12/2025) lewat dini hari.
Aksi damai ini dilakukan spontan dan murni berasal dari gerakan siswa dan guru yang menolak premanisme serta konflik yayasan. Dalam aksinya, siswa membawa poster berisi tulisan aspirasi yang menuntut sekolah terbebas dari sengketa dua kubu yayasan.
Para siswa dan guru meminta, agar proses belajar mengajar bisa kembali kondusif seperti semula, tanpa adanya campur tangan preman maupun konflik internal yayasan.
Mereka juga menuntut, pihak yayasan yang bersengketa segera dikeluarkan dari lingkungan sekolah, karena keberadaan mereka dinilai mengganggu suasana belajar.
Seperti diberitakan sebelumnya, konflik yayasan SMK Turen, memuncak dan viral di medsos, dengan adanya aksi “premanisme” percobaan penguasaan. Gerbang pintu ditabrak dan dirobohkan oknum salah satu yayasan menggunakan truk.
Pihak yang bersengketa diketahui dari Yayasan Pendidikan Teknologi Turen (YPTT), yang mengklaim pemilikan sah atas lembaga dan aset sekolah. Namun, selama ini dikuasai kubu Yayasan Pendidikan Teknologi Waskito Turen (YPTWT). (*)
| Pewarta | : Khoirul Amin |
| Editor | : Imadudin Muhammad |