TIMES MALANG, JAKARTA – Jam Kiamat atau Doomsday Clock kembali dimajukan. Mulai Selasa (27/1/2026), para ilmuwan dari Bulletin of Atomic Scientists menggeser jarum simbolis tersebut ke posisi 85 detik sebelum tengah malam—empat detik lebih dekat dibandingkan tahun lalu.
Langkah ini menandai titik terdekat sepanjang 79 tahun sejarah Jam Kiamat, yang merepresentasikan seberapa dekat umat manusia dengan kehancuran global. Para pakar menilai dunia kini menghadapi risiko terbesar akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, ancaman senjata nuklir, perubahan iklim, hingga maraknya disinformasi.
Bulletin menyebut negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China kian bersikap agresif dan nasionalistik. Dewan yang terdiri dari delapan peraih Nobel juga menilai kerja sama internasional melemah, sementara rivalitas kekuatan besar justru menguat.
“Kesepahaman global yang susah payah dibangun sedang runtuh. Ini mempercepat persaingan geopolitik dan melemahkan upaya bersama untuk mengurangi risiko perang nuklir, krisis iklim, penyalahgunaan bioteknologi, kecerdasan buatan, dan ancaman eksistensial lainnya,” tulis Bulletin dalam pernyataannya.
Dewan Sains dan Keamanan kelompok itu turut menyoroti berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir New START antara Amerika Serikat dan Rusia, serta dorongan pembangunan sistem pertahanan rudal “Golden Dome” yang dinilai dapat mempercepat militerisasi ruang angkasa.
Selain isu persenjataan, krisis iklim juga menjadi perhatian utama. Kekeringan, gelombang panas, banjir, serta naiknya permukaan laut global disebut terus meningkat, sementara komitmen negara-negara untuk menekan emisi masih dianggap belum memadai.
Jurnalis investigasi Filipina sekaligus peraih Nobel Perdamaian, Maria Ressa, mengingatkan bahaya disinformasi yang menyebar cepat melalui teknologi digital. Ia menyebut kondisi saat ini sebagai “kiamat informasi” yang memperdalam polarisasi global.
Ketua Dewan Sains dan Keamanan Bulletin, Daniel Holz, menambahkan bahwa dunia menghadapi erosi kepercayaan antarnegara. Menurutnya, pendekatan “kita melawan mereka” hanya akan memperbesar kemungkinan konflik yang merugikan semua pihak.
Bulletin of Atomic Scientists sendiri didirikan pada 1945 oleh sejumlah tokoh sains terkemuka, termasuk Albert Einstein dan Robert Oppenheimer. Organisasi nirlaba berbasis di Chicago itu meluncurkan Jam Kiamat pada 1947, di tengah kekhawatiran global terhadap perang nuklir pada era Perang Dingin.
Pada 1991, setelah berakhirnya Perang Dingin, jarum jam sempat berada di posisi terjauh, yakni 17 menit sebelum tengah malam. Namun sejak satu dekade terakhir, perhitungan berubah dari menit menjadi detik, seiring meningkatnya kompleksitas ancaman global.
Selain nuklir dan iklim, Bulletin juga menyoroti kemajuan teknologi disruptif seperti kecerdasan buatan serta riset bioteknologi, termasuk pengembangan organisme sintetis yang dijuluki “kehidupan cermin.” Inovasi ini dinilai menjanjikan bagi pengobatan, tetapi juga berpotensi memicu risiko pandemi jika tidak diatur secara ketat.
Presiden dan CEO Bulletin, Alexandra Bell, menegaskan bahwa pergeseran terbaru mencerminkan kondisi genting dunia saat ini. “Setiap detik sangat berarti dan kita kehabisan waktu. Dunia berada paling dekat dengan tengah malam,” ujarnya.
Ini menjadi tahun kedua berturut-turut Jam Kiamat bergerak semakin dekat ke titik hipotetis kehancuran global. Pada 2025, jarum jam sudah berada di 89 detik sebelum tengah malam, dipicu oleh perang Rusia–Ukraina, konflik Timur Tengah, ancaman nuklir, perubahan iklim, serta perlombaan pengembangan AI.
Para ilmuwan menekankan bahwa Jam Kiamat bersifat simbolis, bukan penanda waktu sebenarnya. Namun, mereka kembali mengingatkan bahwa arah jarum dapat berubah jika para pemimpin dunia memperkuat kerja sama internasional dan mengambil langkah nyata untuk menekan berbagai risiko eksistensial yang kini dihadapi umat manusia. (*)
| Pewarta | : Widodo Irianto |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |