TIMES MALANG, MALANG – Ubi jalar khas Wonosari Kabupaten Malang atau lebih dikenal ubi Gunung Kawi punya prospek menjadi makanan alternatif primadona. Dukungan dan intervensi yang lebih dibutuhkan untuk mengembangkan prospeknya.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Malang, Avicenna Medisca Sani P. mengungkapkan, ubi Gunung Kawi cukup berpotensi untuk lebih dikembangkan menjadi komoditas pangan unggulan.
"Ubi Gunung Kawi memang hanya ada di Wonosari Kabupaten Malang. Komoditas ini cukup berpotensi menjadi pangan alternatif unggulan," terang Avicenna Medisca, kepada TIMES Indonesia, Kamis (15/1/2026).
Menurutnya, ubi jalar provitasnya mencapai 221,8 kuintal/hektare atau sekitar 22,18 ton/hektar. Komoditas ubi jalar ini berasal dari luas panen lahan 175 hektar, yang ada di wilayah Kecamatan Wonosari dan Ngajum.

"Jika ditotal, kapasitas produksi ubi jalar di Kabupaten Malang sebanyak 3.881,5 ton," terangnya.
Meski punya potensi, diakuinya komoditas ubi jalar di Kabupaten Malang masih minim dukungan pengembangan dari pemerintah. Terlebih dari APBD Kabupaten Malang, Avi menyebut, selama ini belum pernah ada kontribusi untuk pemberdayaan ubi jalar.
"Ada dua jenis ubi hasil produksi pertanian asli Malang, dengan kekhasan rasanya. Tetapi, memang budidaya dan pengelolaannya masih tradisional. Kekhasan ubi lereng Gunung Kawi ini yang perlu dikembangkan, sehingga mendukung potensi wisata kuliner lokal," tambah Avicenna.
Ia berharap, ke depan ubi khas lereng Gunung Kawi ini bisa menjadi produk kuliner unggulan, yang diminati penikmat wisata kuliner.
Mengenal Ubi Gunung Kawi: Monik dan Mongkrong
Ubi jalar yang dibudidaya petani di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang dikenal dengan Ubi ungu. Namanya, ada ubi Monik dan Mongkrong.

Dua jenis ubi Gunung Kawi ini punya masing-masing karakteristik. Ubi Monik teksturnya lebih lembut, dan bentuknya kecil-kecil. Keunggulan pada rasanya yang manis serta berwarna ungu, sehingga bagus dimakan beserta kulitnya.
Sedangkan, ubi Mongkrong karakteristiknya lembut dan berwarna kuning, daging buahnya cenderung lebih besar.
"Prospeknya sekarang menjadi salah satu potensi di kecamatan Wonosari, khususnya di daerah wisata pesarean Gunung Kawi. Banyak orang yang suka memborong, jadi oleh-oleh atau dikonsumsi sendiri saat berwisata ke Gunung Kawi," demikian Camat Wonosari, A. K. Wisnu Aji.
Dikatakan, potensi unggulan ubi Gunung Kawi ini dikenalkan Wabup Malang Lathifah Shohib, bersamaan pertemuan dengan Dirjen Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa Kementerian Desa PDT RI kemarin.
Dalam kesempatan tersebut, bakal dibangun kesepakatan untuk membawa investor terhadap hasil pertanian di Kabupaten Malang, yang meliputi budidaya kentang dan Ubi Gunung Kawi.
Sebelumnya, kata Wisnu, Menteri/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Prof. Dr. Rachmat Pambudy, juga merasa tertarik dengan ubi ungu Gunung Kawi, baik jenis Monik dan Mongkrong. (*)
| Pewarta | : Khoirul Amin |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |