TIMES MALANG, MALANG – Isra Mikraj bukan hanya kisah tentang Nabi Muhammad SAW yang menembus langit dalam satu malam. Ia adalah titik lahirnya satu kewajiban yang menjadi tiang agama: salat. Di antara seluruh perintah dalam Islam, hanya salat yang tidak “turun” ke bumi, tetapi justru “diambil” langsung oleh Rasulullah dari hadirat Tuhan. Ini menandakan satu hal penting: salat bukan sekadar ritual, melainkan fondasi peradaban spiritual umat Islam.
Namun, setelah lebih dari empat belas abad berlalu, muncul pertanyaan yang jujur dan perlu diajukan: apakah salat masih kita pahami sebagai peristiwa langit yang membentuk manusia bumi? Ataukah ia telah menyusut menjadi rutinitas mekanis yang kehilangan ruh?
Perintah salat lahir bukan di tengah pesta kemenangan, tetapi di saat Rasulullah berada pada fase paling sunyi dalam hidupnya. Setelah kehilangan istri tercinta Khadijah dan pelindungnya Abu Thalib, setelah ditolak dan dilempari di Thaif, justru di titik itulah Allah memanggil Nabi untuk naik. Dari luka bumi menuju cahaya langit. Dari kesedihan manusia menuju kekuatan ilahi.
Lima puluh kali salat yang kemudian diringankan menjadi lima waktu bukan sekadar angka, tetapi pesan: bahwa manusia lemah, dan kelemahannya harus ditopang oleh perjumpaan rutin dengan Tuhannya. Salat adalah “mikraj kecil” yang diwariskan kepada umat. Jika Nabi naik sekali, umat diberi kesempatan naik setiap hari.
Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, salat sering kehilangan makna itu. Ia dikerjakan cepat-cepat, diselipkan di antara kesibukan, atau bahkan ditinggalkan tanpa rasa bersalah. Padahal, salat seharusnya menjadi jeda sakral, tempat manusia menata ulang hatinya, membersihkan pikirannya, dan meluruskan kembali arah hidupnya.
Isra Mikraj mengajarkan bahwa salat bukan beban, tetapi hadiah. Bukan kewajiban kosong, tetapi sarana dialog. Saat takbir dikumandangkan, seharusnya dunia mengecil dan kesadaran membesar.
Jabatan, status sosial, kegelisahan ekonomi, luka batin semuanya ditanggalkan sejenak di hadapan Yang Maha Besar. Lalu bagaimana potret umat Islam yang lahir dari perintah salat ini?
Pertama, umat yang jujur. Salat mengajarkan kejujuran paling dasar: berdiri menghadap Tuhan yang mengetahui isi hati. Maka, ironi terbesar adalah ketika seseorang rajin salat, tetapi tetap ringan menipu, korup, memfitnah, dan mengkhianati amanah. Jika salat tidak mengubah akhlak, mungkin yang berdiri hanyalah tubuh, bukan jiwa.
Kedua, umat yang disiplin. Salat mengatur waktu manusia, bukan sebaliknya. Ia melatih kita tunduk pada keteraturan ilahi, bukan pada kemauan sendiri. Namun realitas sering terbalik: kita menunda salat demi rapat, demi tontonan, demi obrolan. Seolah panggilan Tuhan bisa menunggu, sementara panggilan dunia harus segera dipenuhi.
Ketiga, umat yang rendah hati. Dalam salat, semua sama: pejabat dan buruh, kaya dan miskin, berdiri di saf yang sejajar. Tidak ada kursi kehormatan. Tidak ada karpet khusus. Semua menunduk dengan dahi yang sama-sama menyentuh tanah. Maka aneh jika setelah salat, seseorang kembali merasa lebih tinggi dari orang lain, lebih suci, lebih berhak merendahkan.
Keempat, umat yang peduli. Salat bukan pelarian dari dunia, tetapi bekal untuk memperbaikinya. Rasulullah tidak berhenti berdakwah setelah Mikraj, justru semakin kuat menghadapi realitas sosial. Artinya, orang yang benar salatnya semestinya semakin peka terhadap ketidakadilan, kemiskinan, dan penderitaan sesama.
Namun di sinilah kegelisahan muncul. Banyak di antara kita rajin bersujud, tetapi abai pada tetangga yang lapar. Lantang membaca doa, tetapi senyap ketika melihat ketidakjujuran. Tekun beribadah, tetapi kasar dalam bermuamalah.
Isra Mikraj sejatinya ingin melahirkan umat yang seimbang: langitnya tinggi, tetapi kakinya tetap menapak bumi. Spiritualitasnya dalam, tetapi sosialnya hidup. Salatnya khusyuk, tetapi etikanya juga tumbuh.
Jika hari ini umat Islam sering terpecah, mudah marah, gemar menghakimi, dan sulit dipercaya dalam urusan publik, boleh jadi masalahnya bukan pada kurangnya jumlah salat, tetapi pada hilangnya makna salat itu sendiri.
Kita punya masjid yang megah, jadwal salat yang rapi, aplikasi pengingat yang canggih. Tapi pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah salat masih menjadi peristiwa batin, atau hanya agenda harian?
Isra Mikraj tidak mewariskan gerakan kosong. Ia mewariskan jalan pulang. Jalan agar manusia tidak larut sepenuhnya dalam debu dunia. Jalan agar hati tidak mengeras oleh ambisi. Jalan agar kekuasaan tidak mematikan nurani.
Maka memperingati Isra Mikraj seharusnya tidak cukup dengan spanduk dan ceramah tahunan. Ia perlu diwujudkan dalam perubahan sikap: lebih jujur dalam bekerja, lebih lembut dalam berbicara, lebih adil dalam memutuskan, dan lebih berani menjaga integritas.
Sebab salat yang lahir dari langit, sejatinya diturunkan untuk memperbaiki bumi. Dan umat Islam yang setia pada salat, seharusnya menjadi wajah keteduhan, bukan sumber kegaduhan; menjadi teladan, bukan sekadar simbol. Jika tidak, Isra Mikraj hanya tinggal cerita agung, sementara perintah utamanya kehilangan gema dalam kehidupan. (*)
***
*) Oleh : Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |