TIMES MALANG, MALANG – Dulu, Malang seperti perpustakaan terbuka. Di sudut-sudut kampus, di warung kopi dekat kos mahasiswa, di emperan toko buku bekas, kita mudah menemukan anak muda dengan buku di tangan dan kepala yang penuh pertanyaan.
Diskusi mengalir lebih deras dari kopi yang diseduh. Perdebatan soal filsafat, politik, sastra, hingga isu desa tertinggal sering berlangsung sampai larut malam, ditemani asap rokok dan tawa yang renyah. Malang kala itu bukan hanya kota pendidikan dalam slogan, tetapi dalam denyut sehari-hari.
Kini, suasananya berubah. Bangku-bangku yang dulu menjadi saksi perdebatan kini lebih sering dipenuhi layar ponsel. Jari-jari menari bukan lagi di halaman buku, melainkan di papan gim daring. Obrolan yang dulu memanjang soal ide dan gagasan, sekarang terpotong notifikasi.
Mahasiswa masih memenuhi kafe, benar, tetapi buku jarang terlihat. Diskusi bergeser menjadi obrolan singkat tentang level permainan, diskon aplikasi, atau drama media sosial. Kota pendidikan itu masih berdiri, tetapi rak bukunya terasa makin kosong.
Bukan berarti mahasiswa hari ini bodoh atau malas berpikir. Tidak. Mereka cerdas, cepat, dan akrab dengan teknologi. Namun, ada pergeseran yang patut disayangkan: literasi tak lagi menjadi gaya hidup, melainkan tugas kuliah yang dikerjakan seperlunya. Buku menjadi benda fungsional, bukan teman perjalanan. Diskusi menjadi formalitas ruang kelas, bukan kebutuhan jiwa.
Komunitas literasi yang dulu tumbuh seperti jamur di musim hujan, kini banyak yang layu. Lapak baca gratis yang dulu rutin membuka tikar di alun-alun atau depan kampus, satu per satu menghilang.
Forum diskusi independen semakin jarang terdengar gaungnya. Toko buku kecil bertahan dengan napas pendek, kalah oleh toko daring dan hiburan instan yang lebih menggoda.
Ada banyak sebab. Kurikulum yang menuntut cepat lulus, tekanan ekonomi yang memaksa mahasiswa bekerja sambil kuliah, hingga budaya digital yang menawarkan hiburan tanpa jeda. Gim daring memberi kemenangan instan, media sosial memberi validasi cepat.
Sementara membaca menuntut kesabaran, diskusi menuntut kerendahan hati untuk mendengar dan keberanian untuk berbeda pendapat. Di tengah dunia yang serba cepat, dua hal ini terasa “terlalu lambat”.
Namun, di situlah justru letak persoalannya. Kota pendidikan tidak hanya mencetak sarjana, tetapi seharusnya membentuk manusia yang berpikir. Gelar bisa dicetak oleh mesin administrasi, tetapi nalar hanya tumbuh dari kebiasaan membaca dan berdialog. Tanpa itu, kampus hanya menjadi pabrik ijazah, bukan taman gagasan.
Malang pernah dikenal sebagai kota yang ramah bagi pikiran-pikiran muda. Banyak tokoh lahir dari diskusi jalanan, bukan hanya dari ruang kuliah. Dari perdebatan kecil di warung kopi lahir ide besar, dari bacaan lusuh muncul keberanian mengkritik kekuasaan. Tradisi itu perlahan memudar, digantikan budaya sunyi yang ramai secara digital tetapi sepi secara intelektual.
Ironisnya, fasilitas justru semakin lengkap. Perpustakaan megah berdiri, jaringan internet cepat tersedia, ruang publik bertambah. Tetapi semua itu seperti rumah besar tanpa penghuni. Buku-buku tersusun rapi, tetapi jarang disentuh. Ruang diskusi ada, tetapi lebih sering kosong.
Barangkali kita sedang menyaksikan perubahan definisi “mahasiswa”. Dulu, ia identik dengan pembaca rakus dan pendebat ulung. Kini, ia lebih dikenal sebagai pengguna aplikasi yang cekatan. Tidak salah, tetapi ada yang hilang: keberanian untuk berpikir pelan, mendalam, dan kritis.
Jika dibiarkan, Malang akan tetap disebut kota pendidikan, tetapi hanya sebagai label administratif. Jiwa kotanya yang dulu hidup dari pertukaran ide akan makin menipis. Kota akan ramai oleh bangunan, tetapi sepi oleh perbincangan bermutu.
Tentu, tidak adil menyalahkan mahasiswa semata. Kampus, pemerintah kota, komunitas, bahkan pemilik kafe ikut bertanggung jawab. Ruang literasi perlu dihidupkan kembali, bukan sekadar dibangun. Diskusi perlu difasilitasi, bukan dicurigai. Membaca perlu dirayakan, bukan dianggap aktivitas aneh.
Mungkin kita perlu kembali pada hal sederhana: menghidupkan obrolan yang tidak mengejar viral, membuka lapak baca kecil meski sepi, mengadakan diskusi walau hanya dihadiri belasan orang. Perubahan besar selalu lahir dari meja kecil dan buku tipis.
Malang tidak kekurangan mahasiswa. Yang mulai langka adalah mahasiswa yang membawa buku bukan karena tugas, tetapi karena haus. Kota ini tidak kekurangan gedung kampus. Yang mulai menghilang adalah kampus sebagai ruang tumbuhnya keberanian berpikir.
Jika Malang ingin tetap menjadi kota pendidikan, ia harus berani merawat kembali budaya literasi, meski perlahan. Sebab, kota tanpa pembaca hanyalah kumpulan bangunan. Dan kota tanpa diskusi hanyalah keramaian yang tidak pernah benar-benar berpikir.
***
*) Oleh : Iswan Tunggal Nogroho, Praktisi Pendidikan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |