https://malang.times.co.id/
Opini

Isra Mikraj dan Keagungan Langit bagi Manusia

Kamis, 15 Januari 2026 - 19:01
Isra Mikraj dan Keagungan Langit bagi Manusia Burhanuddin, Kader PMII Cabang Kota Malang.

TIMES MALANG, MALANG – Di antara sekian banyak peristiwa dalam sejarah kenabian, Isra Mikraj berdiri sebagai mahkota spiritual yang tak pernah pudar kilaunya. Ia bukan hanya cerita tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW menembus langit dalam satu malam, melainkan penanda tentang betapa agungnya posisi manusia ketika ia berjalan dalam ketaatan, dan betapa mulianya Rasulullah sebagai utusan yang dipilih langsung untuk menyentuh batas-batas keilahian.

Isra Mikraj bukan sekadar mukjizat, tetapi pesan. Bukan hanya tentang jarak yang ditempuh, melainkan tentang nilai yang ditanamkan. Ketika Nabi diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu dinaikkan menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, umat manusia diajak memahami bahwa kehidupan tidak berhenti pada tanah yang diinjak, tetapi menjulur hingga langit yang menjadi tujuan.

Keagungan peristiwa ini pertama-tama terletak pada waktunya. Ia datang ketika Nabi berada pada titik paling rapuh secara manusiawi. Setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, setelah penolakan dan luka di Thaif, setelah pintu-pintu dunia seolah tertutup, justru langit dibukakan. Seolah Tuhan ingin berkata bahwa ketika dunia menyempit, rahmat-Nya tetap luas. Di saat manusia lain mungkin memilih menyerah, Nabi justru dipanggil untuk naik.

Di situlah keagungan pertama: Isra Mikraj mengajarkan bahwa kemuliaan tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari keteguhan dalam penderitaan. Rasulullah tidak diangkat karena hidupnya ringan, tetapi karena kesabarannya berat, kejujurannya utuh, dan imannya tak retak oleh luka.

Keagungan kedua terletak pada tujuan perjalanan itu sendiri: perintah salat. Di antara sekian banyak syariat Islam, hanya salat yang dititipkan langsung di langit, tanpa perantara bumi. Ini bukan kebetulan. Salat adalah jembatan harian antara manusia dan Tuhannya, versi kecil dari Mikraj yang bisa dilakukan oleh siapa saja, lima kali sehari.

Dengan salat, manusia biasa diberi kesempatan merasakan apa yang Nabi alami dalam peristiwa agung itu: berdiri di hadapan Tuhan, menyampaikan kegelisahan, memohon kekuatan, dan pulang dengan hati yang lebih lapang. Keagungan Isra Mikraj bukan hanya pada Nabi yang naik, tetapi pada umat yang diberi jalan untuk ikut “naik” secara ruhani melalui salat.

Keagungan ketiga tampak ketika Nabi memimpin para nabi terdahulu di Masjidil Aqsa. Ibrahim, Musa, Isa, dan para utusan besar lainnya berdiri sebagai makmum. Adegan ini bukan soal hierarki semata, tetapi tentang kesempurnaan risalah. Bahwa Muhammad SAW datang bukan untuk menghapus, melainkan menyempurnakan. Ia menjadi simpul dari sejarah panjang pencarian manusia terhadap Tuhan.

Dalam simbol itu, Islam tidak berdiri sebagai agama yang memutus masa lalu, tetapi sebagai mata rantai terakhir yang mengikat semua risalah tauhid. Keagungan Nabi bukan hanya pada mukjizatnya, tetapi pada posisinya sebagai penyempurna misi kemanusiaan.

Namun keagungan Isra Mikraj juga terletak pada kesederhanaan sikap Nabi setelah kembali ke bumi. Tidak ada pamer keajaiban, tidak ada tuntutan agar semua orang percaya. Bahkan ketika sebagian orang menertawakannya, Nabi tidak marah. Ia tetap berjalan, berdakwah, memikul caci, dan menata umat.

Di sinilah keagungan moral itu berpijak: seseorang yang telah “menyentuh langit” tetap memilih hidup rendah hati di bumi. Ia tidak berubah menjadi sosok yang merasa lebih tinggi, tetapi justru semakin membumi. Mukjizat tidak menjadikannya sombong, justru menambah beban tanggung jawab.

Dalam dunia hari ini, ketika manusia sering memuja kekuasaan, jabatan, dan pengaruh, Isra Mikraj menghadirkan ukuran kemuliaan yang berbeda. Agung bukanlah yang paling viral, paling ditakuti, atau paling dipuja, tetapi yang paling teguh menjaga amanah, paling jujur menanggung derita, dan paling setia pada nilai.

Keagungan Isra Mikraj juga mengajarkan bahwa iman bukan perkara logika semata. Ia adalah keberanian untuk percaya bahwa hidup memiliki dimensi yang lebih luas dari apa yang terlihat. Bahwa manusia bukan sekadar tubuh yang berjalan di aspal, tetapi jiwa yang sedang menempuh perjalanan panjang menuju pulang.

Maka memperingati Isra Mikraj seharusnya tidak berhenti pada seremoni, spanduk, atau ceramah rutin. Ia adalah undangan untuk bertanya pada diri sendiri: sejauh mana kita sudah memuliakan salat, sejauh mana kita masih bertahan dalam kejujuran, sejauh mana kita sanggup tetap lurus ketika hidup menekan dari segala arah.

Isra Mikraj adalah kisah tentang manusia agung yang diangkat ke langit, lalu kembali untuk mengangkat manusia lain dari keterpurukan. Di sanalah letak kemuliaan Nabi Muhammad SAW yang sejati: bukan hanya karena ia naik, tetapi karena ia kembali membawa cahaya.

Dan mungkin, itulah pesan terbesarnya bagi kita hari ini: bahwa hidup bukan tentang seberapa tinggi kita melambung, tetapi seberapa banyak yang kita terangii setelah kembali menapak di bumi. (*)

***

*) Oleh : Burhanuddin, Kader PMII Cabang Kota Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.