https://malang.times.co.id/
Opini

Mempersiapkan Ramadan Sejak Isra Mikraj

Kamis, 15 Januari 2026 - 19:34
Mempersiapkan Ramadan Sejak Isra Mikraj Jefry Hadi, Guru Pendidikan Agama Islam SDN Polehan 2, Malang.

TIMES MALANG, MALANG – Ramadan sering kita sambut seperti tamu agung yang datang tiba-tiba. Spanduk dipasang mendadak, jadwal puasa dibagikan, niat diperbarui semalam sebelum sahur pertama. Padahal, dalam tradisi spiritual Islam, ada satu momentum penting yang seharusnya menjadi pintu masuk persiapan: Isra Mikraj.

Peristiwa Isra Mikraj bukan hanya tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW menembus langit, tetapi tentang turunnya perintah salat—ritual yang kelak menjadi fondasi ibadah Ramadan. Tanpa salat, puasa kehilangan arah. Tanpa disiplin ruhani, Ramadan mudah berubah menjadi sekadar perubahan jadwal makan.

Isra Mikraj hadir beberapa bulan sebelum Ramadan dalam kalender hijriah. Seolah Allah memberi waktu bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri, membersihkan batin, melatih kedisiplinan, dan menata ulang hubungan dengan Tuhan sebelum memasuki bulan latihan besar bernama Ramadan.

Sayangnya, kita sering memandang Isra Mikraj hanya sebagai peristiwa seremonial tahunan: pengajian, spanduk, ceramah singkat, lalu selesai. Padahal, jika mau jujur, Isra Mikraj adalah “gerbang latihan”. Di sanalah umat diajak kembali pada hal paling mendasar: salat yang hidup, bukan sekadar sah.

Puasa menuntut tubuh yang kuat, tapi lebih dari itu menuntut jiwa yang siap. Orang yang belum terbiasa menjaga salat lima waktu akan kesulitan menjaga diri seharian penuh. Orang yang masih ringan meninggalkan kewajiban, akan mudah mencari alasan untuk melanggar batas.

Karena itu, persiapan Ramadan sejatinya dimulai dari sajadah, bukan dari dapur. Dari wudu yang khusyuk, bukan dari daftar menu buka puasa. Dari membenahi hubungan dengan Allah, sebelum sibuk mempercantik tampilan ibadah.

Isra Mikraj mengajarkan satu hal penting: naiknya manusia kepada Tuhan tidak terjadi dalam keadaan jiwa yang berantakan. Nabi Muhammad SAW diangkat setelah melalui masa duka, luka, dan ujian berat. Artinya, perjumpaan dengan Tuhan menuntut kesiapan mental, bukan sekadar kesiapan kalender.

Maka, menjadikan Isra Mikraj sebagai titik awal persiapan Ramadan berarti mulai menata ulang hidup lebih dini. Memperbaiki salat yang sering bolong. Melatih bangun subuh tanpa drama. 

Membiasakan membaca Al-Qur’an walau hanya beberapa ayat sehari. Mengurangi dosa kecil yang sering dianggap remeh: ghibah, marah berlebihan, menyakiti dengan kata-kata.

Ramadan bukan tombol ajaib yang langsung mengubah manusia dalam 30 hari. Ia adalah puncak dari proses panjang. Tanpa persiapan, puasa hanya akan terasa sebagai kewajiban fisik: lapar, haus, lelah, dan menunggu magrib. Tapi dengan persiapan ruhani sejak Isra Mikraj, Ramadan berubah menjadi perjalanan batin.

Kita sering berharap Ramadan membuat kita lebih sabar, lebih bersih, lebih dekat dengan Allah. Namun lupa bertanya: apakah kita sudah memberi ruang bagi perubahan itu untuk tumbuh?

Isra Mikraj menanam benih disiplin lewat salat. Ramadan menyiraminya dengan puasa. Idulfitri memanen buahnya dalam bentuk jiwa yang lebih jernih. Jika benihnya tidak ditanam dengan baik, jangan heran jika hasilnya hambar.

Lebih dari itu, persiapan Ramadan sejak Isra Mikraj juga berarti menata ulang orientasi ibadah. Bahwa tujuan puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi membentuk manusia yang bertakwa—manusia yang jujur saat sendirian, adil saat berkuasa, dan lembut saat berhadapan dengan sesama.

Isra Mikraj mengingatkan bahwa ibadah tidak memisahkan langit dan bumi. Nabi tidak menetap di langit setelah menerima perintah salat. Ia kembali ke bumi, melanjutkan perjuangan sosial, membela yang lemah, menata masyarakat.

Begitu pula Ramadan. Ia bukan bulan untuk mengasingkan diri dari realitas, tetapi bulan untuk memperbaiki cara kita hidup di dalamnya. Puasa seharusnya melahirkan empati pada yang lapar. Tarawih seharusnya menumbuhkan kerendahan hati. Tadarus seharusnya melahirkan keberanian bersikap adil.

Jika semua itu disiapkan sejak Isra Mikraj, Ramadan tidak lagi datang sebagai kejutan, tetapi sebagai kelanjutan perjalanan. Kita tidak lagi memasuki bulan suci dengan jiwa yang kaget, tetapi dengan hati yang sudah dirapikan. Tidak lagi mengandalkan euforia sesaat, tetapi kesadaran yang matang.

Maka, memperingati Isra Mikraj bukan hanya mengenang perjalanan Nabi, tetapi membaca ulang arah hidup sendiri. Sudah sejauh mana salat kita mengubah perilaku? Sudah sejauh mana hubungan kita dengan Tuhan memengaruhi hubungan kita dengan manusia?

Jika jawaban atas pertanyaan itu masih memprihatinkan, maka inilah waktunya memulai. Sebab Ramadan bukan soal kapan ia datang, tetapi apakah kita benar-benar siap menerimanya. Dan kesiapan itu, sejatinya, dimulai sejak langkah pertama Nabi menapaki langit pada malam Isra Mikraj.

***

*) Oleh : Jefry Hadi, Guru Pendidikan Agama Islam SDN Polehan 2, Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.