https://malang.times.co.id/
Opini

Relevansi Pasar UMKM

Kamis, 01 Januari 2026 - 20:37
Relevansi Pasar UMKM Andriyady, SP., Penulis dan Pengamat Sosial Politik.

TIMES MALANG, MALANG – UMKM hari ini berada di persimpangan yang unik. Jumlahnya terus bertambah, program pendampingan berlapis-lapis, pelatihan bertebaran, tetapi tingkat keberlanjutan usahanya masih rapuh. 

Banyak UMKM lahir, namun tidak sedikit yang gugur sebelum genap berumur dua tahun. Masalahnya bukan semata soal modal, melainkan kegagalan membaca pasar secara jernih.

Pasar UMKM saat ini tidak sedang sepi, justru terlalu ramai. Hampir semua sektor dasar kuliner, fesyen, kopi, kosmetik, hingga kerajinan mengalami kejenuhan pelaku. Produk mirip, harga saling banting, dan promosi saling menenggelamkan. Dalam situasi seperti ini, keberanian memulai usaha saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca celah, bukan ikut berdesakan di pintu yang sama.

Perubahan perilaku konsumen pascapandemi menjadi kunci pertama membaca pasar. Konsumen hari ini lebih rasional, selektif, dan sensitif terhadap nilai. Mereka tidak lagi membeli sekadar murah atau viral, tetapi mempertimbangkan fungsi, kejelasan manfaat, dan cerita di balik produk. UMKM yang masih berjualan dengan pola “asal ada yang beli” akan tertinggal oleh mereka yang memahami mengapa orang membeli.

Salah satu kecenderungan kuat pasar adalah naiknya permintaan produk berbasis kebutuhan harian yang praktis. Bukan barang mewah, bukan tren sesaat, melainkan produk yang menyelesaikan masalah kecil tapi berulang. 

Makanan siap masak, bumbu praktis, camilan sehat, produk kebersihan rumah tangga, hingga jasa berbasis layanan lokal menunjukkan daya tahan lebih kuat dibanding produk yang hanya mengandalkan estetika.

Pasar UMKM juga semakin tersegmentasi. Konsumen tidak lagi homogen. Ada pasar anak muda urban, ibu rumah tangga produktif, pekerja digital, hingga komunitas hobi yang sangat spesifik. Di sinilah banyak UMKM keliru. Mereka ingin menjual ke semua orang, padahal pasar hari ini justru berpihak pada mereka yang fokus. Produk yang jelas untuk siapa, kapan dipakai, dan dalam situasi apa, jauh lebih mudah bertahan.

Inspirasi usaha yang terukur lahir dari kemampuan memetakan kebutuhan nyata di sekitar. UMKM tidak harus selalu “go nasional” sejak awal. Justru kekuatan UMKM ada pada kedekatan dengan lokalitas. Produk berbasis kebutuhan desa, kecamatan, atau komunitas tertentu sering kali lebih stabil dibanding usaha yang langsung membidik pasar luas tanpa fondasi.

Digitalisasi memang membuka peluang besar, tetapi juga menipu banyak pelaku UMKM. Marketplace dan media sosial sering dianggap solusi instan, padahal ia hanya alat. Tanpa diferensiasi produk dan kejelasan pasar, digital hanya mempercepat kegagalan. UMKM yang bertahan bukan yang paling sering live atau diskon, melainkan yang memahami data penjualan, pola repeat order, dan umpan balik pelanggan.

Pasar hari ini juga memberi sinyal kuat pada UMKM berbasis jasa. Di tengah keterbatasan daya beli, masyarakat lebih berhati-hati membeli barang, tetapi tetap membutuhkan layanan. Jasa perawatan, jasa digital, jasa pendidikan nonformal, hingga jasa pendukung UMKM lain justru tumbuh. Usaha berbasis keahlian memiliki risiko lebih rendah karena tidak bergantung pada stok besar.

Hal penting yang sering diabaikan adalah skala usaha. Banyak UMKM gagal karena terlalu cepat ingin membesar. Mereka menambah varian, membuka cabang, atau menaikkan produksi sebelum pasar benar-benar stabil. Padahal, usaha yang sehat justru tumbuh perlahan, terukur, dan terkendali. Mengetahui kapasitas produksi, margin keuntungan, dan arus kas adalah bentuk kedewasaan berusaha.

Negara memang hadir dengan berbagai program, tetapi pasar tidak bisa disandarkan pada bantuan. UMKM yang kuat adalah mereka yang mandiri membaca perubahan. Subsidi bisa menolong, pelatihan bisa membuka wawasan, tetapi keputusan usaha tetap harus berpijak pada realitas pasar, bukan pada proposal atau lomba inkubasi.

Masa depan UMKM tidak ditentukan oleh seberapa kreatif kemasannya, tetapi seberapa relevan produknya. Pasar hari ini tidak membutuhkan UMKM yang seragam, melainkan yang solutif. Yang mampu menjawab kebutuhan kecil dengan konsisten, bukan yang mengejar sensasi besar sesaat.

Membaca pasar UMKM bukan soal menebak tren, melainkan memahami manusia. Apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka hindari, dan apa yang membuat mereka kembali. 

UMKM yang lahir dari empati, dikelola dengan data, dan dijalankan dengan kesabaran, akan menemukan jalannya sendiri meski tanpa sorotan, tanpa panggung besar, tapi tumbuh dengan kokoh.

***

*) Oleh : Andriyady, SP., Penulis dan Pengamat Sosial Politik.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.