TIMES MALANG, MALANG – Zaman tidak lagi berjalan, ia berlari. Perubahan teknologi, pola kerja, dan relasi sosial melaju lebih cepat daripada kurikulum dan nasihat orang tua. Anak muda hari ini hidup dalam dunia yang belum selesai dipahami, tetapi sudah menuntut kesiapan.
Dalam situasi seperti ini, upgrading skill bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dasar. Namun pertanyaannya bukan sekadar skill apa yang dipelajari, melainkan bagaimana cara menyiapkan diri agar tidak tumbang di tengah laju zaman.
Hal pertama yang harus disadari anak muda: skill hari ini cepat usang. Keahlian teknis yang dianggap unggul tahun ini bisa menjadi biasa saja tahun depan. Karena itu, yang paling penting untuk di-upgrade bukan hanya hard skill, tetapi learning skill kemampuan belajar ulang, melepaskan yang lama, dan menyerap yang baru tanpa kehilangan arah. Anak muda harus terbiasa menjadi pembelajar seumur hidup, bukan pencari sertifikat sesaat.
Di tengah derasnya otomatisasi dan kecerdasan buatan, anak muda perlu membekali diri dengan skill yang tidak mudah digantikan mesin. Berpikir kritis, menyusun argumen, membaca konteks sosial, dan mengambil keputusan etis menjadi kompetensi yang justru semakin mahal. Teknologi bisa mengolah data, tetapi tidak bisa menimbang nurani. Di sinilah manusia tetap relevan.
Upgrading skill juga menuntut anak muda untuk keluar dari jebakan spesialis sempit. Zaman membutuhkan profil T-shaped: memiliki satu keahlian utama yang mendalam, tetapi juga memahami banyak hal lintas disiplin.
Seorang desainer tidak cukup hanya piawai visual, ia perlu memahami komunikasi, psikologi audiens, bahkan isu sosial. Seorang programmer perlu peka pada dampak sosial dari teknologi yang ia bangun. Skill yang berdiri sendiri akan rapuh; skill yang terhubung akan bertahan.
Selain itu, anak muda perlu menyiapkan skill adaptasi sosial. Dunia kerja tidak lagi melulu soal kantor dan jam tetap. Kerja jarak jauh, kolaborasi lintas budaya, dan tim multinasional menjadi keniscayaan.
Kemampuan berkomunikasi secara empatik, bekerja dalam perbedaan, dan menyelesaikan konflik secara dewasa bukan lagi nilai tambah, melainkan syarat bertahan. Anak muda yang cerdas tetapi sulit bekerja sama akan tertinggal.
Tak kalah penting, upgrading skill harus dibarengi dengan penguatan karakter. Disiplin, integritas, dan tanggung jawab adalah skill yang sering dianggap kuno, padahal justru menjadi pembeda di tengah banjir talenta. Di dunia yang serba cepat, kepercayaan menjadi mata uang paling mahal. Anak muda yang dapat dipercaya akan selalu menemukan ruang, bahkan ketika kompetisi semakin ketat.
Anak muda juga perlu menyiapkan skill ketahanan mental. Zaman digital membuat perbandingan sosial semakin brutal. Kesuksesan orang lain tampil terang, kegagalan diri sendiri tersembunyi. Tanpa daya tahan psikologis, upgrading skill justru berubah menjadi sumber tekanan. Belajar mengelola kegagalan, menerima proses, dan menunda hasil adalah keahlian hidup yang tak pernah diajarkan secara formal, tetapi menentukan keberlanjutan perjalanan.
Di sisi lain, anak muda harus mulai memandang skill sebagai alat kontribusi, bukan sekadar alat mobilitas pribadi. Dunia sedang menghadapi krisis lingkungan, ketimpangan sosial, dan disrupsi budaya. Keahlian yang dimiliki anak muda akan diuji bukan hanya pada produktivitas, tetapi pada keberpihakannya. Skill yang tidak memberi dampak sosial berisiko kehilangan legitimasi moral.
Upgrading skill juga menuntut keberanian memilih arah. Tidak semua tren harus diikuti, tidak semua peluang harus diambil. Anak muda perlu mengenali minat, nilai, dan batas dirinya sendiri. Tanpa kesadaran ini, mereka hanya akan menjadi pekerja lelah yang terus mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar mereka inginkan. Skill tanpa visi akan menguras tenaga, tetapi tidak memberi makna.
Peran kampus, komunitas, dan negara seharusnya hadir sebagai ekosistem pendukung, bukan sekadar penyedia pelatihan. Anak muda membutuhkan ruang eksperimen, kegagalan yang aman, dan pendampingan yang jujur. Upgrading skill bukan proses instan, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan lingkungan sehat.
Upgrading skill bagi anak muda hari ini adalah soal menyiapkan diri menghadapi dunia yang tidak pasti. Bukan hanya agar mereka tetap relevan secara ekonomi, tetapi agar tetap utuh sebagai manusia. Zaman boleh berlari, teknologi boleh melesat, tetapi anak muda tidak boleh kehilangan kompas nilai.
Skill terbaik bukan yang paling cepat menghasilkan, melainkan yang paling mampu menjaga anak muda tetap berdiri berpikir jernih, bekerja bermakna, dan hidup dengan arah. Sebab di dunia yang terus berubah, mereka yang bertahan bukan yang paling pintar, tetapi yang paling siap.
***
*) Oleh : Abdul Aziz, S.Pd., Praktisi Pendidikan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |