https://malang.times.co.id/
Opini

Penipu Berkedok Profesi

Selasa, 20 Januari 2026 - 21:36
Penipu Berkedok Profesi Thaifur Rasyid, S.H., M.H., Praktisi Hukum.

TIMES MALANG, MALANG – Di zaman ketika jas lebih dipercaya daripada nurani, profesi tak lagi sekadar ladang pengabdian, melainkan bisa menjelma menjadi kostum paling meyakinkan untuk menipu. Penipu tak perlu lagi bersembunyi di lorong gelap atau memakai topeng hitam; cukup mengenakan seragam, kartu identitas, dan sebaris gelar akademik, maka dusta pun naik kelas menjadi “layanan profesional”. Kejahatan hari ini bukan lagi soal tangan yang kotor, melainkan senyum yang terlalu bersih.

Kita hidup di era ketika penampilan lebih fasih berbicara daripada integritas. Jas disetrika, sepatu mengilap, tutur kata dibungkus istilah teknis semua menjadi kosmetik moral yang menutupi borok keserakahan. 

Dari balik meja kantor berpendingin ruangan, lahir kontrak yang menjerat, laporan yang dipoles, dan nasihat yang sebenarnya racun bertitel solusi. Publik pun terpukau, sebab kebohongan yang disampaikan dengan bahasa ilmiah terdengar seperti kebenaran yang sudah lulus uji laboratorium.

Tak jarang, penipuan hadir lewat profesi yang seharusnya paling sakral: pengacara yang menjual pasal seperti barang diskon, dokter yang menulis resep sesuai sponsor, guru yang mengajar sambil menukar nilai dengan amplop, pejabat yang menandatangani penderitaan dengan tinta birokrasi. Di tangan mereka, sumpah profesi hanya dekorasi dinding indah dibaca, tapi tak pernah benar-benar dihidupi.

Yang lebih getir, korban sering disalahkan karena dianggap “kurang hati-hati”, seolah tipu daya adalah mata pelajaran wajib yang harus dikuasai setiap warga. Padahal penipuan model baru ini bekerja bukan dengan ancaman, tetapi dengan kepercayaan. Ia menipu bukan lewat paksaan, melainkan lewat harapan. Ia mencuri bukan dengan membobol pintu, tetapi dengan mengetuk hati.

Masyarakat pun terjebak dalam dilema: ingin percaya, tetapi berkali-kali dikhianati; ingin curiga, tetapi takut disebut su’udzon. Akhirnya kita hidup dalam kewaspadaan setengah matang percaya separuh, takut separuh seperti menyeberang jalan sambil menutup satu mata. Dunia profesional berubah menjadi panggung sandiwara, di mana aktor terbaik adalah mereka yang paling lihai menyembunyikan niat busuk di balik istilah formal.

Ironisnya, penipu berkedok profesi jarang disebut kriminal. Mereka disebut “oknum”, kata ajaib yang bisa mengecilkan dosa sebesar gunung menjadi sekadar kerikil administrasi. Kata itu bekerja seperti penghapus moral: mengaburkan sistem yang rusak, menyempitkan kejahatan menjadi kesalahan personal, lalu menutup diskusi sebelum luka sempat ditunjukkan.

Di negeri ini, penipuan sering kali hanya dianggap salah jika gagal. Jika berhasil, ia berubah nama menjadi “kepintaran”, “kelicikan legal”, atau “strategi bisnis”. Etika kalah pamor dibanding omzet. Kejujuran terdengar kuno, seperti radio butut di tengah konser digital. Anak-anak pun tumbuh dengan pelajaran tak tertulis: lebih penting terlihat sukses daripada benar.

Padahal profesi sejatinya adalah janji sosial kontrak tak tertulis antara keahlian dan kemanusiaan. Ketika profesi dijadikan tameng untuk memangsa sesama, yang runtuh bukan hanya individu korban, tetapi juga kepercayaan publik. Dan ketika kepercayaan mati, masyarakat berubah menjadi kumpulan orang curiga yang saling mengunci pintu, bahkan sebelum malam tiba.

Kita bisa membangun gedung tinggi bernama etika, menyusun kode profesi setebal kitab, dan mengadakan seminar integritas di hotel berbintang. Namun semua itu akan sia-sia jika hati para pemegang profesi masih memuja keuntungan lebih dari tanggung jawab. Sebab penipu berkedok profesi bukan lahir dari kekosongan aturan, melainkan dari kelaparan nurani.

Jika kondisi ini dibiarkan, profesi tak lagi menjadi lentera peradaban, melainkan topeng mahal bagi predator sosial. Dan suatu hari, ketika tak ada lagi yang bisa dipercaya selain diri sendiri, kita baru sadar: kerugian terbesar bukan uang yang dicuri, melainkan rasa aman yang dirampas diam-diam, tanpa sidik jari, tanpa suara, hanya menyisakan sunyi yang penuh curiga.

***

*) Oleh : Thaifur Rasyid, S.H., M.H., Praktisi Hukum.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.