https://malang.times.co.id/
Opini

Melahirkan Ide Kreatif Berusaha di Dunia Digital

Selasa, 20 Januari 2026 - 20:41
Melahirkan Ide Kreatif Berusaha di Dunia Digital Burhanuddin, Kader PMII Cabang Kota Malang.

TIMES MALANG, MALANG – Dunia digital hari ini ibarat samudra tanpa pantai. Luas, bising, penuh peluang, sekaligus sarang badai persaingan. Siapa yang datang tanpa ide, akan tenggelam sebelum sempat berenang. Sebab di pasar virtual, bukan otot yang paling kuat yang menang, melainkan imajinasi yang paling lentur. Ide kreatif adalah perahu kecil yang menentukan apakah seseorang akan berlayar jauh atau sekadar terapung lalu hilang ditelan algoritma.

Melahirkan ide usaha di dunia digital bukan perkara menunggu wahyu turun di tengah malam, apalagi sekadar meniru dagangan tetangga yang sedang viral. Ide lahir dari keberanian membaca masalah sebagai peluang. 

Dari keresahan sehari-hari, dari antrean panjang, dari harga yang tak masuk akal, dari layanan yang bikin geleng kepala. Di sanalah benih kreativitas tumbuh: pada celah-celah ketidaknyamanan manusia modern.

Namun banyak orang terjebak pada mitos bahwa ide harus selalu “wah”. Akhirnya mereka membunuh gagasannya sendiri bahkan sebelum dilahirkan. Padahal dunia digital justru dibangun dari hal-hal sederhana yang dikemas dengan cara luar biasa. 

Ojek online lahir dari masalah macet, marketplace dari repotnya belanja, konten edukasi dari kebosanan belajar di kelas. Kreativitas bukan soal menjadi jenius, melainkan soal peka.

Masalahnya, sebagian generasi muda lebih sibuk menjadi penonton daripada pemain. Mereka menggeser layar berjam-jam, mengagumi kesuksesan orang lain, lalu menutup aplikasi dengan kalimat sakti: “Belum rezeki.” Padahal sering kali yang belum lahir bukan rezekinya, melainkan idenya. Dunia digital tidak membagi keberuntungan dengan undian, tapi dengan keberanian mencoba.

Ide kreatif juga tidak tumbuh di kepala yang malas belajar. Ia menuntut pergaulan dengan data, tren, kegagalan, dan kritik. Membaca pasar, memahami perilaku pengguna, mengamati pola konten, bahkan mempelajari komentar pedas warganet. Semua itu adalah pupuk bagi imajinasi bisnis. Tanpa itu, ide hanya akan menjadi angan-angan yang indah, tapi rapuh seperti istana pasir.

Lebih dari itu, dunia digital menuntut keberanian untuk berbeda. Menjual hal yang sama dengan cara yang sama hanyalah memperpanjang antrean persaingan. Kreativitas sejati adalah memberi sentuhan baru: pada cara bercerita, cara melayani, cara mengemas, atau cara membangun relasi dengan pelanggan. Di sinilah branding bukan sekadar logo, tapi kepribadian usaha.

Namun kita juga perlu jujur: tidak semua ide langsung menemukan jalannya. Banyak yang gugur di tengah jalan, seperti pesawat kertas yang jatuh sebelum menyentuh awan. Tapi kegagalan dalam dunia digital bukanlah nisan, melainkan papan petunjuk. Ia memberi arah, mengoreksi langkah, dan mengajarkan bahwa jatuh bukan alasan untuk berhenti, melainkan alasan untuk belajar berdiri dengan cara baru.

Sayangnya, sistem pendidikan kita masih lebih rajin mencetak pencari kerja daripada pencipta peluang. Anak-anak dilatih menghafal, bukan mengimajinasikan. Mereka diajari mencari jawaban benar, bukan merumuskan pertanyaan baru. Padahal dunia digital adalah ruang bagi mereka yang berani bertanya: “Bagaimana jika?”

Melahirkan ide kreatif berusaha berarti melahirkan kemandirian. Ia bukan hanya soal uang, tetapi soal martabat. Tentang keberanian menentukan arah hidup sendiri, tidak sepenuhnya bergantung pada belas kasihan lowongan kerja. Dalam ide yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, ada harga diri yang tumbuh: bahwa kita bukan sekadar konsumen teknologi, tetapi pencipta nilai di dalamnya.

Dunia digital tidak membutuhkan manusia yang sempurna, tetapi manusia yang berani mencoba. Tidak butuh mereka yang paling pintar, tetapi mereka yang paling tahan jatuh dan bangkit. Ide kreatif adalah api kecil ia bisa padam oleh angin pesimisme, tetapi juga bisa menjadi obor yang menerangi jalan hidup jika dijaga dengan kerja keras.

Sebab di tengah riuh notifikasi dan banjir konten, hanya satu hal yang membuat usaha bertahan: gagasan yang jujur, dikerjakan dengan tekun, dan terus diperbarui oleh keberanian untuk berubah. Dunia digital adalah panggung terbuka. Tinggal memilih: menjadi penonton yang bertepuk tangan, atau aktor yang menulis ceritanya sendiri.

***

*) Oleh : Burhanuddin, Kader PMII Cabang Kota Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.