TIMES MALANG, MALANG – Di tengah riuh dunia yang semakin bising oleh ambisi dan angka-angka, sosok guru agama sering berdiri seperti lampu minyak di sudut kampung: cahayanya kecil, tapi cukup untuk menuntun langkah agar tidak tersesat. Ia bukan selebritas, bukan pejabat, bukan pula pemilik gedung megah. Namun dari lisannya mengalir nilai, dari lakunya tumbuh teladan, dan dari kesederhanaannya lahir keteguhan akhlak yang tidak bisa dibeli dengan anggaran negara.
Guru agama yang teladan tidak mengajar dengan suara keras, melainkan dengan hidupnya sendiri. Ia tidak sekadar mengutip ayat dan hadis, tetapi menjadikannya napas dalam keseharian.
Ketika ia berbicara tentang kejujuran, murid melihatnya jujur dalam jual beli kecil di warung. Ketika ia menasihati tentang kesabaran, murid menyaksikannya menahan amarah saat upahnya terlambat cair. Di sanalah pelajaran sejati berlangsung: bukan di papan tulis, tetapi di panggung kehidupan.
Di zaman ketika agama sering dijadikan bendera politik atau komoditas ceramah berbayar, guru agama yang teladan justru tampil sunyi. Ia mengajar bukan untuk viral, tetapi untuk menyelamatkan.
Menyelamatkan akal dari kebodohan, menyelamatkan hati dari kebencian, dan menyelamatkan generasi dari kekosongan makna. Ia seperti tukang kebun yang sabar menyiram benih, meski tahu buahnya mungkin akan dipetik orang lain.
Ironisnya, mereka yang paling berjasa membentuk moral bangsa sering hidup paling sederhana. Gajinya tipis, fasilitasnya pas-pasan, ruang kelasnya kadang bocor saat hujan. Tetapi dari ruangan sempit itulah lahir manusia-manusia yang kelak memimpin mimbar, memegang kebijakan, atau membangun usaha dengan etika. Guru agama menanam, sementara dunia memanen.
Keteladanan mereka juga tampak dalam cara memandang perbedaan. Di tengah panasnya polarisasi, guru agama yang bijak mengajarkan bahwa iman tidak tumbuh dari makian, dan keyakinan tidak menguat dengan membenci. Ia menanamkan bahwa Tuhan tidak butuh dibela dengan kebrutalan, melainkan dengan keluhuran akhlak. Di tangannya, agama kembali menjadi mata air, bukan bara.
Lebih dari itu, guru agama yang teladan tidak membangun murid sebagai penghafal, tetapi sebagai manusia. Ia tidak hanya bertanya “berapa ayat yang kamu hafal?”, tetapi “nilai apa yang kamu praktikkan hari ini?”. Ia paham bahwa moral tanpa empati hanya akan melahirkan manusia keras, dan ilmu tanpa kasih sayang hanya akan melahirkan generasi cerdas yang dingin.
Namun, zaman tidak selalu ramah pada mereka. Arus materialisme sering membuat profesi guru agama dianggap jalan sunyi yang tak menjanjikan masa depan. Anak muda didorong mengejar profesi yang gemerlap, sementara mengajar agama dianggap pekerjaan pinggir. Padahal, tanpa mereka, bangsa ini akan kaya teknologi tapi miskin nurani.
Kita sering ribut soal krisis moral generasi muda, tapi lupa bertanya: sudahkah kita memuliakan para penjaga moral itu sendiri? Guru agama kerap dituntut menjadi malaikat, tetapi diperlakukan seperti manusia kelas dua. Diharapkan mendidik dengan sempurna, namun diberi kesejahteraan yang setengah-setengah. Ini ironi yang terlalu lama kita anggap biasa.
Guru agama yang teladan sesungguhnya sedang membangun benteng paling kokoh bagi bangsa: karakter. Benteng ini tidak terlihat di peta, tidak bisa diresmikan dengan gunting pita, tetapi akan terasa ketika godaan korupsi datang, ketika kekuasaan menggiurkan, ketika jalan pintas tampak lebih menguntungkan. Di saat itulah suara sang guru, yang pernah terdengar pelan di kelas, berubah menjadi kompas di dalam hati.
Maka, menghormati guru agama bukan sekadar soal memberi ucapan saat Hari Guru. Ia harus hadir dalam kebijakan, kesejahteraan, dan cara kita memandang profesi ini dengan hormat. Sebab dari tangan merekalah kita belajar bukan hanya cara beribadah, tetapi cara menjadi manusia yang tidak kehilangan arah di tengah gemerlap dunia.
Guru agama yang teladan tidak meminta panggung. Tapi tanpanya, panggung kehidupan akan dipenuhi aktor-aktor yang lihai berbicara, namun miskin nurani. Dan ketika itu terjadi, kita baru sadar: betapa mahal harga sebuah keteladanan yang dulu kita anggap sepele.
***
*) Oleh : Abdul Aziz, S.Pd., Guru SD negeri 4 Sawojajar.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |