TIMES MALANG, MALANG – Sales selama ini sering dipandang sebatas profesi lapangan: mengetuk pintu toko, menawarkan produk, mengejar target, lalu pulang membawa laporan penjualan. Padahal, di tangan sales-lah nasib sebuah produk ditentukan apakah ia akan hidup di pasar atau mati pelan-pelan di gudang.
Dalam konteks ekonomi inklusif, sales bukan sekadar ujung tombak marketing, melainkan wajah pertama keadilan ekonomi itu sendiri. Mereka adalah jembatan antara produsen kecil dan pasar yang luas, antara usaha rumahan dan etalase kota, antara harapan dan kenyataan.
Ekonomi inklusif menuntut agar semua pelaku usaha, besar maupun kecil, memiliki peluang yang relatif adil untuk tumbuh. Masalahnya, pasar tidak selalu ramah pada yang kecil. UMKM sering kalah bukan karena produknya buruk, tetapi karena tak punya akses distribusi, tak punya jaringan, dan tak punya orang yang bersedia memperjuangkan produknya di lapangan.
Di titik inilah peran sales menjadi vital. Sales yang membawa produk UMKM ke toko-toko, ke koperasi, ke pasar modern, sejatinya sedang membawa mimpi banyak keluarga agar tetap menyala.
Namun dunia sales juga tidak steril dari ketimpangan. Produk besar datang dengan bonus besar, insentif tebal, dan sistem rapi. Produk kecil datang dengan margin tipis dan risiko tinggi. Banyak sales akhirnya “dipaksa logika perut” untuk memilih yang besar dan meninggalkan yang kecil.
Bukan karena tidak peduli, tetapi karena sistem tidak memberi ruang untuk idealisme. Di sinilah ekonomi inklusif sering tersandung: bukan karena tidak ada niat, tetapi karena struktur pasar lebih memihak pada yang sudah kuat.
Jika sales hanya diarahkan untuk mengejar angka tanpa nilai, maka marketing berubah menjadi mesin seleksi alam: yang kecil tersingkir, yang besar berlari makin kencang. Tetapi jika sales diposisikan sebagai agen pemerataan, maka marketing bisa menjadi alat redistribusi peluang.
Satu produk lokal yang berhasil masuk rak minimarket berkat kegigihan seorang sales bisa mengubah roda ekonomi satu kampung. Satu kontrak kecil bisa berarti uang sekolah, biaya berobat, dan dapur yang tetap mengepul.
Sales bukan hanya menjual barang, tetapi juga menjual cerita. Mereka membawa narasi tentang siapa yang membuat produk ini, dari mana asalnya, dan mengapa ia layak diberi tempat. Di situlah marketing berubah dari sekadar strategi menjadi kerja sosial yang sunyi.
Sayangnya, kerja semacam ini jarang masuk laporan pembangunan. Tidak ada statistik resmi tentang “berapa banyak keluarga terselamatkan oleh satu orang sales yang jujur dan gigih”.
Di era digital, banyak orang mengira peran sales akan punah digantikan algoritma. Nyatanya tidak. Marketplace bisa mempertemukan pembeli dan penjual, tetapi kepercayaan tetap sering dibangun oleh manusia.
Terutama untuk produk lokal yang belum punya nama besar. Sales tetap dibutuhkan untuk membuka pintu, merawat relasi, dan menjelaskan kualitas yang tak selalu bisa diterjemahkan oleh foto produk.
Jika negara sungguh ingin membangun ekonomi inklusif, maka memperkuat peran sales produk UMKM seharusnya menjadi agenda serius. Bukan hanya pelatihan motivasi dengan spanduk besar, tetapi insentif yang adil, perlindungan kerja, dan sistem distribusi yang tidak memeras. Sales yang membawa produk rakyat tidak boleh diperlakukan seperti pion habis pakai, sementara keuntungan besar menumpuk di pusat.
Lebih dari itu, paradigma marketing juga harus diubah. Target penjualan tetap penting, tetapi dampak sosial harus ikut dihitung. Berapa UMKM yang naik kelas? Berapa desa yang terhubung ke pasar? Berapa produk lokal yang bertahan? Tanpa itu, marketing hanya akan menjadi lomba cepat antara perusahaan besar, sementara usaha kecil tertinggal di pinggir jalan, melambaikan tangan pada debu.
Sales adalah garis depan dari pertarungan senyap antara keadilan dan ketimpangan di dunia ekonomi. Mereka berjalan di lorong-lorong pasar membawa lebih dari sekadar katalog harga; mereka membawa peluang.
Jika ujung tombak ini diarahkan dengan nurani, maka ekonomi inklusif bukan lagi jargon seminar, melainkan kenyataan yang bisa dirasakan di warung kecil, di rumah produksi sederhana, dan di meja makan keluarga pekerja. Namun jika sales hanya dijadikan alat angka dan target, maka marketing akan terus menjadi pesta bagi yang kuat, dan ekonomi inklusif tinggal cerita di kertas kebijakan.
***
*) Oleh : Jazuli, S.E. M.E., Pegiat dan Pelaku UMKM.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |