TIMES MALANG, MALANG – Di balik rimbunnya kaki Gunung Arjuna, Kabupaten Malang menyimpan sebuah situs cagar budaya bercorak Buddha yang belum banyak dikenal publik, yakni Stupa Sumberawan.
Meski tidak sepopuler candi-candi besar di Jawa Timur, keberadaan Stupa Sumberawan menyimpan nilai sejarah, arkeologi, dan spiritual yang tinggi.
Stupa Sumberawan telah resmi ditetapkan sebagai situs cagar budaya berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/783/KPTS/013/2016. Sehingga menjadi salah satu situs yang harus dirawat dan dijaga kelestariannya.
Dari data yang dihimpun dalam Informasi Cagar Budaya (Incar) Provinsi Jawa Timur, Secara geografis, Stupa Sumberawan terletak di Desa Toyomerto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, sekitar 6 kilometer di sebelah timur laut Singosari. Masyarakat setempat kerap menyebutnya sebagai Candi Sumber Rawan, merujuk pada letaknya yang berada di dekat telaga dengan air yang sangat jernih dan bening.
Bangunan Stupa Sumberawan terbuat dari batu andesit dan memiliki karakteristik kuat agama Buddha. Berdasarkan kajian arkeologi, stupa ini diperkirakan berasal dari abad ke-14 M hingga awal abad ke-15 M, atau sezaman dengan kejayaan Kerajaan Majapahit.
Berbeda dengan candi pada umumnya, Stupa Sumberawan tidak memiliki bilik, tangga, relief, maupun hiasan. Struktur bangunannya berupa stupa besar yang berdiri di atas batur segi empat, dengan lapik berbentuk segi delapan dan landasan menyerupai bunga lotus (teratai merah). Keunikan lainnya, stupa ini dibangun di kaki bukit Gunung Arjuna, dekat sistem perairan berupa telaga atau kolam irigasi.
Dari temuan arkeologi dan fragmen batu di sekitar situs, para peneliti memperkirakan bahwa puncak Stupa Sumberawan tidak dilengkapi chattra, yakni payung bertingkat yang umumnya menjadi simbol kesucian dalam arsitektur stupa Buddha.
Dalam ajaran Buddha, stupa melambangkan nirbana, yakni kebebasan tertinggi dari penderitaan dan keterikatan duniawi. Secara umum, stupa terdiri atas lima bagian utama, yaitu prasadha, anda, harmika, yasti, dan cattra. Prasadha melambangkan dunia bawah yang masih dikuasai hawa nafsu, anda merupakan badan stupa, harmika menjadi penghubung antara dunia bawah dan atas, yasti sebagai poros kosmis, sementara cattra melambangkan nirwana.
Namun, Stupa Sumberawan memiliki ciri khas tersendiri. Selain disusun di atas batur bertingkat, stupa ini tidak memiliki tangga, ruang dalam, maupun ornamen, serta berada di antara dua telaga, yang memperkuat kesan sakral sekaligus alami.
Sejumlah peneliti juga mengaitkan Stupa Sumberawan dengan catatan sejarah dalam Kitab Nagarakrtagama. Situs ini diduga sebagai Kasurangganan atau Taman Surga Nimfa, tempat peristirahatan yang dipilih Raja Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan keliling wilayah Majapahit pada tahun 1359 M. Berdasarkan rujukan tersebut, Stupa Sumberawan diyakini dibangun pada abad ke-14.
Dengan segala keunikan dan nilai historisnya, Stupa Sumberawan bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan juga potensi besar bagi pengembangan wisata sejarah dan budaya di Kabupaten Malang. (*)
| Pewarta | : Achmad Fikyansyah |
| Editor | : Imadudin Muhammad |