TIMES MALANG, MALANG – Di negeri yang katanya demokratis ini, politik sering tampil bukan sebagaipanggung gagasan, melainkan sebagai sirkus keliling. Lampunya terang, musiknya keras, kostumnya gemerlap, tetapi pesan yang dibawa kerap kabur.
Para politisi hadir bak pelukis jalanan, mencipratkan warna sesuka hati di kanvas publik: merah saat marah, hijau saat butuh berkah, putih saat ingin tampak suci, dan hitam ketika urusan mulai beraroma gelap. Begitulah potret “Negeri Tawa”, tempat politik tak jarang lebih mirip pertunjukan komedi daripada upaya serius mengurus nasib rakyat.
Di musim kampanye, panggung politik berubah menjadi pasar malam. Janji dijajakan seperti balon gas: ringan, berwarna-warni, dan mudah terbang bila dilepas. Ada politisi yang tampil religius mendadak, hafal ayat di depan kamera namun gagap saat diminta menjelaskan rencana anggaran.
Ada pula yang berlagak nasionalis, suaranya menggelegar seperti drum perang, tetapi senyap ketika rakyat kecil digerus harga beras. Di negeri tawa, konsistensi bukan mata uang utama; yang laku justru fleksibilitas lidah dan kelenturan punggung.
Lucunya, perubahan warna ini sering dirayakan, bukan dicurigai. Publik seolah sudah terbiasa melihat politisi berganti kostum ideologi seperti artis ganti baju di belakang panggung. Hari ini berteriak soal moral, besok bersalaman dengan yang kemarin dicaci. Pagi mengutuk korupsi, malam duduk semeja dengan tersangka. Semua dilakukan dengan wajah datar, seolah kontradiksi adalah bentuk baru dari kecerdasan politik.
Media sosial memperparah panggung sandiwara ini. Politisi tak lagi berlomba menawarkan kebijakan, melainkan konten. Kamera lebih penting dari konsep, viral lebih sakral daripada visi.
Mereka menari di TikTok, bercanda di podcast, berswafoto di lokasi bencana, seakan derita rakyat adalah latar yang pas untuk menaikkan jumlah pengikut. Di negeri tawa, algoritma lebih berkuasa daripada akal sehat.
Namun di balik gemerlap itu, ada rakyat yang menonton sambil menahan getir. Petani tetap menghitung pupuk, buruh menghitung jam lembur, mahasiswa menghitung biaya kuliah, sementara politisi sibuk menghitung elektabilitas.
Panggung politik ramai oleh tepuk tangan, tetapi dapur rakyat tetap sunyi. Ironisnya, semakin keras tawa di gedung kekuasaan, semakin sayup suara perut lapar di luar pagar.
Warna-warni politisi seharusnya menjadi tanda keberagaman gagasan. Tetapi yang tampak justru keberagaman kepentingan. Merah bukan lagi simbol keberanian, melainkan emosi sesaat di depan kamera.
Hijau bukan kesuburan kebijakan, tetapi cat tipis untuk menutup retak integritas. Putih bukan kesucian niat, melainkan bedak tebal untuk menutupi wajah lelah oleh transaksi. Dan hitam, ah, hitam terlalu sering hadir diam-diam, seperti bayangan yang mengikuti langkah kekuasaan.
Rakyat pun lama-lama belajar tertawa pahit. Mereka tahu bahwa setiap lima tahun sekali, negeri ini akan disulap menjadi panggung festival janji. Spanduk bermekaran seperti jamur musim hujan, slogan beterbangan seperti selebaran diskon. Setelah itu, panggung dibongkar, warna memudar, dan rakyat kembali membersihkan sisa-sisa kertas di jalanan, sambil menunggu giliran kecewa berikutnya.
Namun, di tengah absurditas itu, harapan masih berdenyut kecil seperti lilin di tengah angin. Masih ada politisi yang mencoba konsisten, yang memilih bekerja daripada berpose, yang lebih sering hadir di rapat kebijakan daripada di kolom gosip. Mereka memang tidak selalu viral, tidak selalu disorot kamera, tetapi justru di sanalah letak warnanya yang paling langka: warna tanggung jawab.
Negeri ini sebenarnya tidak kekurangan cat. Yang kurang adalah keberanian untuk melukis masa depan dengan warna yang jujur. Politik seharusnya menjadi kanvas untuk menggambar keadilan, kesejahteraan, dan martabat manusia, bukan sekadar papan reklame ambisi pribadi. Jika politisi terus bermain badut, rakyat akan terus dipaksa menjadi penonton yang membayar tiket dengan pajak, kesabaran, dan masa depan anak-anaknya.
Mungkin sudah saatnya Negeri Tawa belajar berhenti tertawa pada hal yang menyakitkan. Karena terlalu lama menertawakan kebohongan hanya akan membuat kita lupa bahwa kita sedang dilukai. Warna-warni politisi akan selalu ada, tetapi rakyat berhak menuntut satu warna yang tak boleh pudar: warna kejujuran dalam mengabdi.
Jika suatu hari panggung politik menjadi sunyi dari tawa palsu dan riuh oleh kerja nyata, mungkin saat itulah negeri ini benar-benar layak disebut dewasa. Bukan lagi negeri tawa, tetapi negeri yang mampu tersenyum karena keadilan benar-benar terasa, bukan sekadar karena lelucon kekuasaan yang diulang-ulang.
***
*) Oleh : Moh Farhan Aziz, Mahasiswa Pascasarjana ADM Publik Unisma.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |