TIMES MALANG, MALANG – Ada satu kalimat yang makin sering terdengar di kalangan anak muda: yang penting kerja dulu. Kalimat ini terdengar realistis, bahkan dewasa. Namun di balik nadanya yang pasrah, tersimpan kegelisahan yang jarang diucapkan: tentang karya yang tak sempat lahir, tentang mimpi yang dikecilkan agar muat di meja absensi, dan tentang portofolio yang lebih mirip daftar kehadiran daripada jejak pemikiran.
Di era industri kreatif yang katanya serba terbuka, banyak anak muda justru terjebak menjadi pekerja tanpa wajah. Mereka mengerjakan banyak hal, tetapi jarang diingat. Produknya dipakai, namanya hilang. Idenya diperas, dampaknya nihil. Karya berubah fungsi: dari ekspresi menjadi pesanan, dari perlawanan menjadi laporan. Kita menyebutnya profesionalisme. Padahal, sering kali itu hanya bentuk lain dari penjinakan.
Anak-anak muda masuk dunia kerja dengan ransel penuh mimpi, lalu keluar dengan map berisi tugas. Portofolio mereka rapi, tapi kosong gema. Ada desain, ada tulisan, ada video, ada kode namun tak ada suara. Semuanya “sesuai brief”, semuanya “aman klien”, semuanya “netral”. Netral, seperti air suling: bening, tapi tak menyembuhkan apa pun.
Industri menyukai pekerja seperti ini: cepat, patuh, tidak banyak bertanya. Kreatif, asal tidak kritis. Produktif, asal tidak politis. Berbakat, asal tidak merepotkan.
Di sinilah karya perlahan runtuh. Bukan karena tidak ada talenta, tetapi karena talenta diperas sampai kering. Karya tidak lagi dilahirkan dari kegelisahan, tetapi dari tenggat. Tidak lagi dari keberanian, tetapi dari invoice. Anak muda akhirnya hidup sebagai “tangan sewaan”, bukan sebagai pencipta makna.
Ironisnya, semua ini dibungkus dengan narasi manis: bangun portofolio. Tapi portofolio seperti apa yang sedang kita bangun? Apakah ia menunjukkan siapa kita, atau hanya membuktikan bahwa kita bisa patuh?
Portofolio hari ini sering hanya menjadi katalog kepatuhan. Daftar proyek tanpa cerita. Kumpulan pekerjaan tanpa sikap. Ia lebih mirip kartu laporan industri, bukan arsip perjalanan intelektual.
Padahal, dalam sejarah, karya selalu lahir dari keberpihakan. Dari keberanian mengambil posisi. Dari luka sosial yang ditulis, dari ketidakadilan yang divisualkan, dari kegelisahan yang dikodekan. Tanpa itu, karya hanyalah produk. Dan produk, seindah apa pun, tidak pernah mengubah apa pun.
Anak muda lalu tumbuh dengan dua kelelahan sekaligus: lelah bekerja dan lelah menjadi diri sendiri. Mereka produktif di siang hari, kosong di malam hari. Gaji datang, makna absen. Deadline terpenuhi, tetapi idealisme dikubur pelan-pelan, seperti bangunan tua yang diruntuhkan tanpa upacara.
Yang tersisa hanyalah rutinitas dan portofolio yang tampak hebat di LinkedIn, tetapi sunyi ketika ditanya: “Ini kamu, atau cuma pekerjaanmu?”
Lebih menyedihkan lagi, sistem ikut merayakan kehancuran ini. Kita memuji mereka yang “sibuk”, bukan yang berpikir. Kita mengagungkan mereka yang “banyak proyek”, bukan yang punya posisi. Kita mencibir mereka yang idealis sebagai tidak realistis, seolah realisme berarti menyerah sepenuhnya pada logika upah. Padahal, dunia tidak pernah berubah oleh pekerja yang hanya patuh. Dunia berubah oleh mereka yang menjadikan karya sebagai sikap.
Bukan berarti semua harus menjadi aktivis. Tetapi setiap karya seharusnya membawa jejak nilai. Entah itu keberpihakan pada kejujuran, keberanian menolak manipulasi, atau kesediaan berkata tidak pada proyek yang merendahkan martabat. Karya yang tidak berdampak bukan karena kecil, tetapi karena sengaja dikosongkan dari makna.
Anak muda tidak kekurangan skill. Mereka kekurangan ruang untuk jujur. Kekurangan ekosistem yang menghargai integritas lebih dari kecepatan. Kekurangan industri yang berani menerima karya yang tidak selalu nyaman.
Maka, kehancuran karya hari ini bukan ledakan besar. Ia seperti gedung yang lapuk dari dalam. Dari luar tampak berdiri, dari dalam kosong penyangga.
Portofolio terus bertambah halaman, tetapi identitas makin menipis. Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya, “kerjanya di mana?” dan mulai bertanya, “karyanya untuk siapa?” Bukan untuk HRD, bukan untuk algoritma, bukan hanya untuk klien tetapi untuk nurani.
Karena karya yang sejati tidak selalu membuat kaya, tetapi selalu membuat manusia utuh. Dan generasi yang hanya dilatih menjadi pekerja tanpa dampak, pada akhirnya akan mewarisi dunia yang rapi secara sistem, tetapi bangkrut secara makna.
***
*) Oleh : Thaifur Rasyid, S.H., M.H., Praktisi Hukum.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |