TIMES MALANG, MALANG – Rokok adalah obat. Begitu kata sebagian orang, sambil menepuk saku baju yang berisi sebungkus batang putih beracun. Obat stres, obat ngantuk, obat sepi, bahkan obat patah hati. Ia diisap seperti doa kecil yang ditiupkan ke udara, seolah kepulan asap mampu menyembuhkan retak yang tak terlihat. Padahal, yang masuk ke paru-paru bukanlah harapan, melainkan hutang panjang bernama penyakit.
Kalimat “rokok adalah obat” terdengar seperti puisi pendek yang tragis. Indah di telinga, tetapi mematikan di dalam dada. Ia lahir dari kebiasaan yang diwariskan, dipelihara, lalu dirawat oleh industri yang menjadikan candu sebagai komoditas dan penderitaan sebagai laporan keuntungan.
Di negeri ini, rokok tidak sekadar barang konsumsi. Ia telah menjelma budaya, simbol kejantanan, teman diskusi, bahkan dianggap sahabat setia kaum pekerja. Di warung kopi, ia menjadi pembuka obrolan. Di pos ronda, ia menjadi penghangat malam. Di tangan buruh, ia menjadi jeda dari lelah yang tak pernah benar-benar usai.
Namun, di balik romantisme itu, berdiri barisan rapi para pedagang penyakit yang mengenakan jas mahal dan senyum statistik. Mereka tidak menjual tembakau. Mereka menjual ilusi: bahwa racun bisa terasa hangat, bahwa kecanduan bisa disebut kebutuhan, bahwa kematian bisa dicicil pelan-pelan.
Industri rokok pandai menulis dongeng. Petani selalu dijadikan tokoh utama dalam narasi penderitaan, seolah tanpa rokok, ladang-ladang akan berubah menjadi kuburan ekonomi. Buruh pabrik diangkat sebagai tameng moral, seakan kritik terhadap rokok identik dengan menghapus mata pencaharian rakyat kecil. Negara diajak berhitung dengan kalkulator cukai, bukan dengan stetoskop kesehatan.
Mereka lupa atau pura-pura lupa bahwa biaya rumah sakit tidak pernah masuk dalam iklan televisi. Bahwa paru-paru menghitam tidak tercatat dalam laporan tahunan. Bahwa anak-anak yang tumbuh bersama asap tidak pernah dimintai persetujuan.
Rokok disebut obat, tetapi tidak pernah diresepkan dokter. Ia diklaim menenangkan, tetapi justru menjerat. Ia dijanjikan sebagai penawar stres, padahal hanya mengganti satu kecemasan dengan kecemasan lain yang lebih mahal: ketakutan akan batuk yang tak sembuh-sembuh, napas yang semakin pendek, dan usia yang dipotong diam-diam.
Mereka yang hidup dari rokok sering berdiri seperti pemadam kebakaran yang diam-diam menuang bensin. Di satu tangan membawa dalih ekonomi, di tangan lain menyebar bara. Mereka berbicara tentang kontribusi pajak, sambil menutup telinga dari suara anak yang kehilangan ayah sebelum lulus sekolah.
Iklan rokok masih menari-nari di layar, lihai menghindari larangan dengan simbol gunung, petualangan, dan kebebasan palsu. Seolah kebebasan bisa dibungkus dalam kertas tipis dan dibakar tiga menit sekali. Seolah keberanian bisa diukur dari seberapa dalam seseorang menghirup racun.
Ironisnya, korban rokok jarang diberi panggung. Yang tampil justru angka: triliunan rupiah, jutaan tenaga kerja, persentase pertumbuhan. Manusia direduksi menjadi statistik, dan penyakit dianggap efek samping yang bisa dinegosiasikan.
Padahal, satu paru-paru rusak tidak bisa ditukar dengan seribu baliho iklan. Satu nyawa tidak setara dengan seluruh deviden pemegang saham.
Di ruang-ruang ICU, rokok tidak pernah disebut obat. Ia dikenal dengan nama aslinya: penyebab. Penyebab kanker, jantung bocor, stroke yang datang seperti pencuri malam. Tetapi di ruang rapat ber-AC, kata itu berubah menjadi “produk legal” dan “kearifan lokal”.
Mereka yang mengais hidup dari rokok sering meminta dimengerti, tetapi jarang mau mengerti. Mereka menuntut empati, tetapi enggan menengok korban. Seolah keuntungan adalah hak suci, sementara kesehatan hanyalah bonus opsional.
Tidak ada yang salah dengan mencari nafkah. Yang salah adalah mencari nafkah dari memperpendek napas orang lain.
Rokok bukan obat. Ia hanya candu yang diberi puisi. Racun yang dipoles kata-kata. Ia seperti jam pasir terbalik: setiap hisapan adalah butir waktu yang jatuh, tak bisa diambil kembali.
Mungkin sudah waktunya berhenti berdusta pada diri sendiri. Berhenti menyebut racun sebagai penawar. Berhenti mengagungkan industri yang makmur dari batuk rakyatnya sendiri.
Jika rokok benar-benar obat, seharusnya rumah sakit kosong dan kuburan sepi. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya: bangsal penuh, liang lahat bertambah.
Maka, sebutlah rokok dengan jujur. Ia bukan obat. Ia adalah bisnis besar yang tumbuh dari ketergantungan kecil, yang dipelihara setiap hari, dihisap perlahan, sampai tubuh menyerah dan industri kembali menghitung laba.
***
*) Oleh : Moh Farhan Aziz, Mahasiswa Pascasarjana ADM Publik Unisma.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |