https://malang.times.co.id/
Opini

Menulis dan Membaca Aksara Daerah yang Mulai Memudar

Jumat, 16 Januari 2026 - 22:42
Menulis dan Membaca Aksara Daerah yang Mulai Memudar Mashudi Hamzah, Pengurus IKatan Mahasiswa Raas (IMR) Malang.

TIMES MALANG, MALANG – Di sudut-sudut museum, di halaman naskah kuno, dan pada batu-batu prasasti yang mulai berlumut, aksara daerah Indonesia masih bernafas pelan. Ia ada, tetapi jarang disapa. Ia hidup, tetapi nyaris tak dipakai. 

Di ruang kelas, di kafe, di media sosial, yang ramai justru alfabet Latin bercampur istilah asing: English, Korean, Japanese, slang global yang meluncur lebih cepat daripada ingatan kita pada huruf Jawa, Bugis, Batak, Rejang, Lampung, atau Bali.

Kita sedang menyaksikan sebuah paradoks kebudayaan: bangsa yang bangga pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika, tetapi perlahan kehilangan keberanian membaca dan menulis identitasnya sendiri.

Aksara daerah bukan sekadar rangkaian garis dan lengkung. Ia adalah ingatan kolektif yang ditorehkan oleh leluhur, cara suatu peradaban memperkenalkan diri pada waktu. Sebelum republik ini berdiri, sebelum bahasa Indonesia dikumandangkan sebagai bahasa persatuan, aksara-aksara lokal telah lebih dulu mencatat doa, hukum adat, silsilah, ilmu pengobatan, hingga kisah cinta yang tak sempat diabadikan dalam foto. Namun hari ini, aksara itu seperti tamu tua di rumah sendiri dikenal namanya, tetapi jarang diajak bicara.

Anak-anak kita fasih mengeja “download”, “deadline”, dan “subscribe”, tetapi gagap saat diminta menulis satu kalimat dalam aksara daerahnya sendiri. Lidah mereka lincah meniru aksen luar negeri, sementara tangan mereka gemetar ketika berhadapan dengan warisan huruf leluhur.

Bukan karena mereka bodoh. Tetapi karena kita, sebagai generasi dewasa, lebih rajin mengagungkan yang datang dari jauh daripada merawat yang tumbuh dari tanah sendiri.

Globalisasi memang seperti arus laut: kuat, deras, dan sulit dibendung. Bahasa asing menjelma tiket mobilitas sosial. Siapa yang bisa bahasa Inggris dianggap pintar. Siapa yang mahir bahasa Korea dianggap keren. 

Siapa yang menulis aksara Jawa? Paling dianggap “unik”, “tradisional”, atau sekadar bahan lomba Hari Kartini. Di sinilah masalahnya: kita mengubah identitas menjadi ornamen, bukan fondasi.

Padahal, belajar aksara daerah bukan berarti menolak modernitas. Ia justru cara berdiri tegak di tengah dunia yang seragam. Seperti pohon yang akarnya kuat, meski daunnya menari mengikuti angin global.

Aksara adalah wajah sunyi kebudayaan. Ketika ia hilang, yang punah bukan hanya huruf, tetapi cara berpikir. Setiap aksara membawa logika, filosofi, dan struktur batin masyarakatnya. Huruf Jawa misalnya, tidak sekadar alat tulis, tetapi mengajarkan keteraturan, tingkatan bahasa, bahkan etika berkomunikasi. 

Aksara Bugis memuat konsep siri’ (harga diri). Aksara Batak menyimpan sistem pengetahuan tradisional tentang alam dan kehidupan. Menghapus aksara berarti menghapus satu cara manusia Nusantara memahami dunia.

Ironisnya, pendidikan kita sering memperlakukan aksara daerah seperti pelajaran sampingan datang sebentar, lalu hilang ditelan kurikulum padat. Diajar setengah hati, diuji sekadarnya, lalu dilupakan begitu bel sekolah berbunyi.

Sementara itu, gawai di tangan anak-anak bekerja tanpa henti: menggiring mereka masuk ke dunia yang seragam, cepat, dan dangkal. Dunia di mana semua huruf tampak sama, dan semua bahasa mengejar satu pusat.

Jika ini terus dibiarkan, kelak aksara daerah hanya akan hidup sebagai artefak: dipajang dalam kaca, diberi label, dan dijelaskan oleh pemandu wisata kepada generasi yang tak lagi mampu membacanya. Kita akan menjadi bangsa yang bisa membaca dunia, tetapi tak bisa membaca dirinya sendiri.

Namun harapan belum sepenuhnya padam. Di beberapa daerah, komunitas muda mulai menghidupkan kembali kelas aksara, membuat konten digital berhuruf lokal, menulis puisi dan poster dengan aksara daerah, bahkan menggabungkannya dengan desain modern. Mereka membuktikan bahwa tradisi tidak harus tua, dan identitas tidak harus ketinggalan zaman.

Yang dibutuhkan adalah keberpihakan: dari sekolah, pemerintah daerah, media, dan keluarga. Aksara daerah harus kembali ke ruang hidup bukan hanya di buku teks, tetapi di papan nama, poster acara, media sosial, mural kota, hingga antarmuka digital.

Belajar aksara daerah sejatinya bukan sekadar soal nostalgia, tetapi investasi kebudayaan. Ia menanamkan rasa memiliki, memperkuat akar, dan mengajarkan bahwa modern tidak berarti amnesia. Karena bangsa yang besar bukan hanya yang mampu berbicara dengan dunia, tetapi juga yang masih sanggup berbicara dengan leluhurnya.

Jika hari ini kita membiarkan aksara daerah tenggelam dalam diam, maka esok anak cucu kita hanya akan mengenalnya sebagai legenda seperti bahasa yang mati, seperti suara yang pernah ada, lalu lenyap. Dan ketika itu terjadi, kita bukan hanya kehilangan huruf. Kita kehilangan sebagian dari diri kita sendiri.

***

*) Oleh : Mashudi Hamzah, Pengurus IKatan Mahasiswa Raas (IMR) Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.