TIMES MALANG, MALANG – Di zaman layar tak pernah tidur, kebenaran tidak lagi datang sebagai tamu terhormat, melainkan sebagai tamu undangan yang harus berebut kursi dengan rumor, potongan video, dan status setengah matang. Publik hari ini tidak hanya hidup dalam realitas, tetapi juga dalam cerita tentang realitas. Dan di situlah perang dimulai: perang narasi.
Narasi bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah kacamata. Siapa pun yang memakainya akan melihat dunia sesuai dengan bingkai yang disodorkan. Satu peristiwa bisa berubah menjadi tragedi, prestasi, skandal, atau lelucon tergantung siapa yang menceritakan dan dari sudut mana kamera diarahkan.
Dalam politik, ekonomi, bahkan urusan sepele seperti antrean minyak goreng, narasi bekerja seperti tukang sulap. Dengan satu kalimat, kegagalan bisa disulap menjadi “tantangan sementara”. Dengan satu tagar, kebijakan bisa tampil sebagai penyelamat atau penjahat. Fakta tetap sama, tetapi maknanya berganti kostum.
Media sosial mempercepat segalanya. Dulu, cerita butuh redaksi, verifikasi, dan waktu. Sekarang, cukup satu jempol, satu emosi, dan satu koneksi internet. Narasi lahir prematur, tumbuh liar, lalu beranak-pinak sebelum kebenaran sempat mengenakan sepatu.
Publik pun berubah menjadi medan tempur. Setiap linimasa adalah parit, setiap komentar adalah peluru, setiap influencer adalah komandan lapangan. Yang kalah bukan hanya pihak yang kehilangan simpati, tetapi sering kali kebenaran itu sendiri terkubur di bawah trending topic.
Perang narasi tidak selalu kotor. Ia bisa menjadi alat pembebasan, seperti ketika suara rakyat kecil menemukan panggung. Ia bisa membuka luka yang selama ini disembunyikan karpet kekuasaan. Tetapi ia juga bisa menjadi senjata pemusnah massal reputasi, menghancurkan nama, memecah persaudaraan, bahkan membelokkan arah kebijakan.
Dalam konstruksi publik, narasi bekerja seperti semen ideologis. Ia merekatkan opini individu menjadi tembok kolektif. Jika semen itu rapuh, bangunan mudah runtuh. Jika ia beracun, seluruh kota bisa sakit tanpa sadar.
Masalahnya, banyak narasi hari ini tidak dibangun untuk mencari kebenaran, melainkan untuk memenangkan persepsi. Yang penting bukan apa yang terjadi, tetapi apa yang dipercaya terjadi. Bukan siapa yang benar, tetapi siapa yang paling keras dan paling sering muncul di layar.
Di sinilah manipulasi menemukan rumahnya. Data dipotong seperti kain, dijahit sesuai ukuran kepentingan. Konteks dibuang seperti bungkus permen. Yang tersisa hanya potongan cerita yang enak dikunyah, tetapi miskin gizi intelektual.
Publik sering kali menjadi korban sekaligus algojo. Kita membagikan cerita tanpa membaca, marah tanpa memeriksa, membenci tanpa mengenal. Jempol kita lebih cepat dari pikiran, emosi lebih dulu menyalip akal sehat. Kita menjadi tentara sukarela dalam perang yang tidak kita pahami peta perangnya.
Padahal, konstruksi publik bukan bangunan mainan. Ia menentukan siapa dipercaya, siapa dicurigai, siapa dipilih, siapa disingkirkan. Ia memengaruhi kebijakan, hukum, bahkan cara kita memandang tetangga sendiri.
Jika narasi yang menang adalah narasi kebencian, publik akan tumbuh sebagai massa yang mudah tersulut. Jika yang dominan adalah narasi ketakutan, masyarakat akan rela menukar kebebasan dengan ilusi keamanan. Jika yang dipelihara adalah narasi palsu tentang kesempurnaan, kritik akan dianggap pengkhianatan.
Maka perang narasi seharusnya tidak hanya dimenangkan oleh yang paling licin, tetapi oleh yang paling jujur. Tidak oleh yang paling viral, tetapi oleh yang paling bertanggung jawab. Media, akademisi, jurnalis, dan warga biasa memiliki peran yang sama penting: menjadi penjaga pintu makna.
Literasi bukan lagi sekadar kemampuan membaca huruf, tetapi kemampuan membaca motif. Membedakan antara informasi dan propaganda. Antara kritik dan pesanan. Antara kesalahan manusia dan rekayasa kebencian.
Tanpa itu, publik hanya akan menjadi tanah liat basah, mudah dibentuk oleh tangan mana pun yang lebih dulu datang. Hari ini dibentuk menjadi pahlawan, besok menjadi penjahat. Hari ini dielu-elukan, besok dilupakan.
Perang narasi akan terus ada, selama manusia punya kepentingan dan lidah. Tetapi konstruksi publik tidak harus selalu menjadi korban. Ia bisa menjadi ruang dialog, bukan hanya arena duel. Ia bisa menjadi taman gagasan, bukan hanya kuburan kebenaran.
Siapa yang menguasai cerita memang bisa menguasai pikiran. Tetapi publik yang kritis dapat merebut kembali kendali. Dengan bertanya sebelum membagi. Dengan berpikir sebelum percaya. Dengan meragukan bahkan cerita yang paling indah sekalipun. Karena di dunia yang penuh suara, diamnya akal sehat adalah kekalahan terbesar.
***
*) Oleh : Moh. Farhan Aziz, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DPD LIRA Kota Malang.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |