https://malang.times.co.id/
Pendidikan

Belajar dari Broken Strings: Wujud Nyata Korban Dipaksa Diam

Jumat, 16 Januari 2026 - 22:00
Broken Strings, Keberanian Aurelie Moeremans Bersuara Aurelie Moeremans, sosok dibalik buku Broken Strings. (FOTO: instagram @aurelie)

TIMES MALANG, MALANG – Novel Broken Strings karya Aurelie Moeremans menjadi sorotan publik setelah penulis sekaligus aktris itu mengungkap bahwa kisah yang ia tuangkan merupakan pengalaman nyata hidupnya. Buku tersebut bukan sekadar karya sastra, melainkan bentuk kejujuran dan keberanian Aurelie dalam membuka luka masa lalu yang selama ini terbungkam.

Dalam Broken Strings, Aurelie menceritakan pengalaman pahitnya sebagai korban child grooming hingga kekerasan seksual di usia muda. Setiap narasi yang ditulis menghadirkan emosi mendalam dan menggambarkan bagaimana relasi kuasa dimanfaatkan pelaku untuk memanipulasi korban secara perlahan. Pengalaman itu menegaskan bahwa hubungan yang terbangun bukanlah atas dasar suka sama suka, melainkan perbuatan kriminal yang merampas hak dan keselamatan korban.

Novel itu bertutur bagaimana korban kerap dipaksa untuk diam. Child grooming bekerja melalui pendekatan halus dan manipulatif, membuat korban tidak memiliki keberanian atau ruang aman untuk bersuara. Situasi tersebut diperparah oleh ketimpangan relasi kuasa yang menempatkan korban dalam posisi sangat rentan.

Aktivis keperempuanan sekaligus pendiri Women’s March Malang, Reni Eka Mardiana, menilai isu child grooming dan kekerasan seksual masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Menurutnya, fenomena itu ibarat gunung es, di mana kasus yang tidak terungkap jauh lebih banyak dibandingkan yang muncul ke permukaan.

“Kasus-kasus ini kini juga marak terjadi di ruang digital. Ini persoalan struktural yang harus terus digaungkan,” ujar perempuan yang akrab disapa Rere.

Broken-Strings.jpgBuku Broken Strings yang dibagikan Aurelie di sosial medianya. (FOTO: suara.com)

Ia menambahkan, kuatnya budaya patriarki, normalisasi kontrol atas tubuh perempuan dan anak, serta ketimpangan relasi kuasa menjadi faktor yang membuat kekerasan seksual terus berulang. Karena itu, kasus-kasus seperti ini perlu terus dibongkar agar tidak kembali terulang di masa depan.

Dari sisi hukum, Rere menilai regulasi di Indonesia belum sepenuhnya berpihak pada korban kekerasan seksual. Penegakan hukum masih menitikberatkan pada bukti fisik, padahal dalam kasus child grooming, serangan terhadap korban lebih banyak terjadi secara psikologis melalui manipulasi bertahap. Proses hukum pun kerap menempatkan korban dalam situasi sulit, mulai dari pertanyaan yang menyudutkan, victim blaming, hingga menimbulkan retraumatisasi.

Dalam hal itu, menurut Rere, korban membutuhkan waktu relatif lama untuk pemulihan. Dan setiap orang memiliki fase pemulihan yang berbeda-beda.

Dalam perspektif feminis, proses pemulihan korban tidak bisa diukur dengan kembali ke kondisi sebelum trauma. Pemulihan dimaknai sebagai upaya korban merebut kembali kendali atas hidupnya sendiri.

“Pulih itu gimana cara korban dapat merebut kembali kendali atas hidup mereka sendiri, jadi tidak terbayang-bayang oleh trauma,” tutur Rere.

Proses pemulihan, lanjutnya, membutuhkan waktu panjang dan melibatkan banyak pihak. Korban memerlukan ruang aman, lingkungan yang suportif, serta pendampingan profesional seperti terapis. Dalam kasus Aurelie, kesadaran bahwa apa yang dialaminya adalah bentuk kekerasan menjadi titik awal keberanian untuk keluar dari lingkungan yang memanipulasinya, meski jalan pemulihan yang ditempuh tidak mudah.

Trauma, menurut Rere, memang tidak dapat hilang sepenuhnya, tetapi bisa diolah dan diintegrasikan dalam kehidupan korban. Aurelie memilih untuk menerima, mengolah, dan mengintegrasikan traumanya, sehingga ia mampu menguasai luka tersebut tanpa terus dikuasai rasa takut masa lalu.

Melalui Broken Strings, kata Rere, Aurelie Moeremans menyampaikan pesan bahwa mendengarkan suara korban adalah langkah menuju keadilan.

Masyarakat tidak bisa menutup mata terhadap kondisi penyintas kekerasan seksual. Perubahan sistem budaya, sosial, dan hukum menjadi kebutuhan mendesak agar korban mendapatkan penanganan yang tepat dan dapat pulih lebih cepat.

Buku itu juga menjadi pengingat sekaligus nafas lega bagi para penyintas lain untuk berani bersuara. Kehadiran kisah Aurelie membuka ruang baru bahwa kekerasan seksual dan child grooming merupakan lingkaran trauma yang nyata, terutama bagi perempuan.

“Ada loh publik figur yang mengalami posisi rentan seperti ini. Aurelie seakan memberikan wadah bagi para penyintas untuk bersuara,” kata Rere. (*)

Pewarta : Miranda Lailatul Fitria (MG)
Editor : Ferry Agusta Satrio
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.