TIMES MALANG, MALANG – Ikatan Mahasiswa Raas Malang (IMR Malang) menggelar bedah buku dan dialog isu tematik kedaerahan bertema anti-rasisme di East Java Super Corridor (EJSC) Bakorwil Malang, Kamis (23/1/2026).
Kegiatan ini mengulas buku karya Dr. Nurul Huda, M.Fil.I berjudul Melampaui Warna Kulit dan diikuti 39 peserta dari berbagai organisasi daerah, perguruan tinggi di Malang Raya, serta mahasiswa asal Timor Leste.
Organisasi yang terlibat antara lain IKMASS Malang Raya, FKMS, Universitas Islam Madura (Unira), Girpapas, FKMJM, dan UIN Malang. Forum ini menjadi ruang dialog lintas latar belakang untuk membahas praktik diskriminasi berbasis warna kulit yang masih terjadi di masyarakat.

Thaifur Rasyid, Ketua IMR Malang, mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh masih kuatnya stigma sosial terhadap perbedaan warna kulit di Indonesia.
“Masih ada anggapan bahwa orang berkulit cerah lebih baik dibandingkan yang berkulit gelap. Padahal Indonesia berdiri di atas keberagaman,” ujarnya.
Menurutnya, rasisme yang dibiarkan dapat berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas jika tidak diantisipasi melalui edukasi.
“Kami ingin peserta memahami bahwa rasisme tidak boleh dinormalisasi dalam bentuk apa pun,” tegasnya.

Thaifur menambahkan, tidak ada ajaran agama yang membenarkan tindakan diskriminatif.
“Perbedaan warna kulit bukan penghalang untuk berteman dan bersosialisasi. Yang utama adalah saling menghormati sebagai sesama manusia,” katanya.
Salah satu peserta, mahasiswa asal Timor Leste, Talia Fatima, menilai kegiatan semacam ini penting untuk memperkuat kesadaran publik tentang keberagaman.
“Rasisme dan diskriminasi tidak membawa dampak positif. Masyarakat perlu terus diedukasi agar lebih menghargai perbedaan,” ujarnya.
Ia berharap diskusi lintas daerah dan budaya dapat terus diperbanyak di lingkungan kampus maupun komunitas.
Melalui kegiatan ini, IMR Malang menargetkan tumbuhnya kesadaran kolektif mahasiswa untuk menolak segala bentuk diskriminasi dan memperkuat nilai persaudaraan dalam kehidupan sosial. (*)
| Pewarta | : Miranda Lailatul Fitria (MG) |
| Editor | : Hainorrahman |