TIMES MALANG, MALANG – Beberapa nama usaha kuliner terkenal kerap identik dengan asal mula tempatnya. Di Kepanjen, Kabupaten Malang, sejumlah usaha kuliner lokal tetap melegenda dari tahun ke tahun karena bukan hanya cita rasanya, tetapi juga kisah yang menyertainya.
Nama-nama tempat kuliner ini tak lepas dari cerita lama para pemiliknya dan sejarah lokasi tempat usaha tersebut berdiri. Dua di antaranya adalah Kedai Halte Jus Store dan Kedai Dokar, yang hingga kini masih bertahan dan dikenal lintas generasi.
Kedai Halte Jus Store

Kedai Halte Jus Store milik Cak Mat dikenal sebagai pelopor kedai jus di Kepanjen. Kedai yang akrab disebut Halte Jus ini telah berdiri sejak 14 Maret 2006.
Pada awal berdiri, Halte Jus menempati sebuah rumah sewa kecil di Jalan Kawi, Kepanjen. Lokasi tersebut dulunya merupakan tempat mikrolet rute Gunung Kawi–Wonosari ngetem menunggu penumpang.
“Dulu kedai pertama di Jalan Kawi. Memang tempat mikrolet ngetem. Biasanya anak sekolah dari daerah Gunung Kawi menunggu angkutan di warung Halte Jus. Jadi fungsinya seperti halte pada umumnya,” ujar Cak Mat, Senin (26/1/2026).
Seiring waktu, Halte Jus berpindah ke area pertokoan Kantor Pos Kepanjen di Jalan Kawi. Usaha ini kemudian berkembang dengan membuka cabang di depan pintu masuk Stadion Kanjuruhan serta di pinggir Jalan Raya Sukoraharjo, dekat pintu masuk Perumahan GSI Kepanjen.
Selain jus, Halte Jus juga dikenal dengan menu makanan yang diminati pelanggan. “Menu paling dicari adalah Kwetiau Goreng Jawa. Untuk jus, total ada 38 varian buah,” ungkap Cak Mat.
Beberapa varian jus favorit pelanggan antara lain alpukat, tamarillo mix leci, mangga, jambu, sirsak, durian, dan stroberi. Tak hanya warga lokal, Halte Jus juga beberapa kali dikunjungi wisatawan mancanegara yang singgah di Kepanjen.
Kedai Dokar
Kedai kopi sederhana Dokar, yang menyimpan cerita dari nama tempat usaha kuliner ini. (Foto: Amin/TIMES Indonesia)
Sementara itu, Kedai Dokar hadir sebagai warung kopi sederhana dengan menu utama kopi dan tahu gembos goreng. Ukurannya hanya sekitar 4 x 6 meter persegi, terletak di pinggir jalan di sebelah utara jembatan Sungai IS Molek, Kepanjen.
Nama Dokar diambil dari sejarah lokasi warung tersebut. Dahulu, tepat di depan kedai ini merupakan tempat mangkal deretan kereta kuda atau dokar yang menunggu penumpang.
Dokar sendiri merupakan alat transportasi tradisional yang masih banyak dijumpai di Kepanjen pada era 1990-an. Saat itu, dokar menjadi pilihan utama masyarakat untuk menuju kawasan perdagangan Pasar Kepanjen maupun pelajar yang berangkat ke sekolah.
Pemilik Kedai Dokar dikenal masih menjaga nilai-nilai warisan leluhur. Hal itu tercermin dari hiasan dinding warung yang memajang berbagai pesan dalam aksara Jawa Sanskerta, bahasa Belanda, hingga huruf Kanji Jepang.
Salah satu pesan yang terpajang berbunyi “Verboden Te Spuwen”, larangan meludah sembarangan dalam bahasa Belanda, menjadi pengingat etika publik yang diwariskan lintas zaman.
Keberadaan Kedai Halte Jus dan Kedai Dokar menjadi bukti bahwa kuliner lokal bukan sekadar soal rasa, tetapi juga ruang hidup bagi ingatan, sejarah, dan identitas Kota Kepanjen. (*)
| Pewarta | : Khoirul Amin |
| Editor | : Imadudin Muhammad |