Berita

Syakur Asaori Raup Ratusan Juta Rupiah dari Bisnis Barang Antik

Sabtu, 24 September 2022 - 07:36
Syakur Asaori Raup Ratusan Juta Rupiah dari Bisnis Barang Antik Syakur Asaori sedang memegang radio antik di kiosnya Vintage Bandung. (FOTO: Megha Nugraha/TimesTIMES Indonesia)

TIMES MALANG, BANDUNG – Berawal dari jual beli mobil bekas, Syakur Asaori kemudian banting setir menjadi pengusaha barang antik. Omzet yang diperolehnya juga terbilang fantastis. Hingga mencapai 300 juta rupiah dalam sebulan. Sampai saat ini, ia sudah memiliki tujuh kios di Pasar Antik Cikapundung, Bandung

“Paling kalau sepi-sepinya 100 juta rupiah per bulan. Tapi itu penjualan kotor karena kita juga belanjanya lumayan. Sekarang Alhamdulillah sudah punya tujuh kios di sini,” ungkapnya kepada TIMES Indonesia di Pasar Antik Cikapundung, Bandung, Jumat (23/9/2022)..

Ketika itu, penjualan mobil bekasnya mengalami penurunan. Lantas ia pun berpikir untuk menjual barang-barang antik lewat sosial media. Melihat potensi penjualan barang antiknya menjanjikan, Syakur kemudian memberanikan diri membuat toko pertamanya di Pasar Barang Antik Cikapundung pada tahun 2014. Toko barang antiknya itu lalu ia beri nama Vintage Bandung.

Manuskrip-rajah-kuno-terbuat.jpgManuskrip rajah kuno terbuat dari pelepah pisang. (FOTO: Megha Nugraha/TimesTIMES Indonesia)

Gramofon atau alat pemutar piringan hitam, kata dia, adalah barang antik pertamanya yang terjual di toko ini. Alat pemutar piringan hitam itu terjual seharga Rp800 ribu kepada pembeli pertamanya. Gramofon sendiri sempat populer pada era 1960-an.

Namun, kata pria kelahiran Tasikmalaya ini, sebelum membuka toko dirinya juga sudah berjualan barang antik melalui sosial media seperti Instagram, Facebook, dan marketplace Tokopedia. Tak hanya itu, sejumlah artis Indonesia sampai Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil pun mengikuti akun Instagram miliknya di @vintage_bandung.  

“Tidak hanya offline, kami juga sudah menggunakan media online sejak dulu. Kekuatan di online itu kan tidak hanya di Indonesia tapi juga seluruh dunia,” ungkap mantan penyiar radio Antassalam Bandung ini.

Ia menyebut, barang-barang antik yang diperolehnya itu melalui beberapa jaringan komunitas pemburu barang antik. Jaringan pedagang antik itu ia akui tersebar di seluruh Indonesia.

“Kadang ada juga beberapa yang datang ke sini menjual barang antik. Macam-macam kondisinya ada yang masih bagus, ada juga yang rusak. Karena kan mereka jual loakan,” kata dia.

Koleksi-Barang-barang-antik.jpgKoleksi Barang-barang antik di kios milik Vintage Bandung. (FOTO: Megha Nugraha/TimesTIMES Indonesia)

Pembeli barang antik ini diakui Syakur berasal dari berbagai macam kalangan. Baik dari wisatawan lokal maupun mancanegara. Bahkan, tokonya ini pernah didatangi sejumlah artis Indonesia, seperti Ahmad Dhani, Fadli Zon, Irfan Hakim, sampai Ki Daus.

“Bahkan sampai saat ini Ahmad Dhani masih, cuma dia lewat online. Kalau dulu Ahmad Dhani sering ke sini, Fadli Zon juga dan Ki Daus. Kalau Irfan Hakim lewat online,” papar Syakur yang memiliki koleksi sekitar 1000 barang antik.

Barang antik yang usianya paling tua adalah kepingan-kepingan uang atau token peninggalan kerajaan Sriwijaya, umurnya sekitar 1600-an. Selain itu, ia juga mengoleksi naskah-naskah atau manuskrip kuno yang terbuat dari daun lontar karya ulama santri nusantara sekitar tahun 1700-an.

“Itu kan warisan nusantara harus disimpan dengan baik. Koran tahun 1800-an kita juga ada,” kata dia.

Soal perawatan, bagi Syakur, yang paling sulit adalah merawat naskah-naskah kuno. Sebab, bila jarang diberi perhatian khusus naskah-naskah itu akan cepat rusak oleh kutu buku atau semacam serangga pemakan kertas.

“Perawatan khusus itu di naskah, harus rajin-rajin dibuka. Kalau nggak rajin dibuka suka ada kutu buku, jadi cepat rusak,” jelas pria berusia 38 tahun ini.

Alih-alih membutuhkan perawatan khusus, pembeli justru lebih menyukai barang-barang yang terlihat natural. Namun kata dia itu pun biasanya barang-barang yang terbuat dari besi atau sejenisnya. Seperti kulkas atau mainan mobil-mobilan yang sudah berkarat.

“Malah kadang-kadang kalau di barang antik itu, benda berkarat atau berdebu itu jadi uang, seperti mainan mobil kuno ini sudah berkarat, sekitar tahun 60-an,” ujar Syakur Asaori pedagang barang antik di Pasar Antik Cikapundung, Kota Bandung. (*)

Pewarta : Megha Kusumaningtrias Nugraha (MG-436)
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.